Hukum Sholat Di Waktu Terlarang (Bagian pertama)
0
comments
بسم الله الرحمن الرحيم
Kata Pengantar Fadhilatusy Syaikh Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy –semoga Alloh menjaganya-
الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم، أما بعد:
Aku telah membaca risalah “At Taudhihatul ‘Ilmiyyah Li Hukmish Sholah Fil Auqotil Manhiyyah”
karya saudara kita peneliti yang mulia Abu Fairuz Abdurrohman bin
Soekojo Al Indonesiy, maka penelitiannya ini bagus, mencakup tahapan
pendahuluan yang bagus, dan bersifat menyeluruh dalam bidang yang
dibahas.
Maka semoga Alloh membalasnya dengan kebaikan, dan memberkahi dirinya dan penelitiannya.
Ditulis oleh:
Yahya bin Ali Al Hajuriy
25 Shofar 1434 H
بسم الله الرحمن الرحيم
Kata Pengantar Penulis
الحمد لله رب العالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده
ورسوله، اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين أما بعد:
Telah datang kepada saya surat dari salah seorang saudara di negri kami
yang menanyakan beberapa perkara yang terkait dengan hukum sholat
sunnah setelah sholat Ashr, lalu saya kirimkan jawaban yang singkat dari
Syaikh kami Al ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه
الله yang tertulis dalam kitab beliau yang menyenangkan “Al Kanzuts
Tsamin” (2/hal. 458):
Beliau ditanya: “Apakah dua rekaat setelah sholat Ashr itu sunah rowatib?”
Maka
beliau menjawab: “Bukan sunnah. Orang yang luput darinya rowatib
zhuhur, silakan dia sholat pada waktu itu (selesai sholat Ashr), tapi
tidak terus-menerus melakukan itu. Adapun dalil yang tetap yang
menyebutkan bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم terus-menerus sholat
setelah sholat Ashr, maka itu merupakan kekhususan bagi beliau. Beliau
sholat rotibah zhuhur seusai sholat Ashr kamudian beliau terus-menerus
melakukan itu karena beliau itu senang jika mengerjakan suatu amalan,
lalu beliau terus-menerus melakukannya.”
(selesai penukilan).
Maka jawaban yang kokoh dan benar tersebut tersebar di sebagian situs para ikhwah kita Salafiyyin di negri kita.
Kemudian datanglah bantahan dari seorang ikhwah yang mana dia menulis dalam risalahnya:
“Ada riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam tidak sempet ngerjain shalat rawatib ba’da zhuhur dan beliau
melakukannye ba’da shalat ashar. Dan ada juga riwayat yang menjelaskan
bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mendawamkan shalat rawatib
ba’da ashar.
Nah yang jadi pertanyaan, mane qarinahnya kalau shalat ba’da ashar itu
merupakan suatu kekhususan untuk beliau shallallahu ‘alaihi wasallam?
Karena ada riwayat seperti ini nih:
حدثنا
عبد الله حدثني أبي ثنا عبد الرحمن عن سفيان وشعبة عن منصور عن هلال عن
وهب بن الأجدع عن على رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم انه قال :
لا تصلوا بعد العصر الا ان تصلوا والشمس مرتفعة .
تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده حسن رجاله ثقات رجال الصحيح غير وهب بن الأجدع
Telah
menceritakan kepada kami ‘Abdullah, telah menceritakan kepadaku Ayahku,
telah menceritakan kepada kami ‘Abdirrahman, dar Sufyan dan Syu’bah,
dari Manshur, dari Hilal, dari Wahb bin Al Ajda’, dari ‘Ali
radhiyallallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
sesungguhnya beliau bersabda, “Janganlah kalian shalat setelah ashar
kecuali shalat pada saat matahari masih tinggi.”
Ta’liq Syu’aib Al Arnauth: Sanadnya Hasan para perawinya Tsiqat, perawi Ash Shahih, kecuali Wahb bin Al Ajda’.
(Musnad Ahmad 1/129 No. 1073).
Wahb bin Al Ajda’ adalah perawi tsiqah, disebutkan oleh Ibnu Hibban dan Al ‘Ijli dalam kitab Ats Tsqat mereka.
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata:
وهب ابن الأجدع الهمداني الكوفي ثقة من الثانية
Wahb ibn Al Ajda’ Al Hamdani Al Kufi, Tsiqah, dari (thabaqah) kedua.
(“Taqribut Tahdzib” 2/584 No. 7467).
Jadi yang benar riwayat tersebut Shahih, insya’ Allah.
Dan terdapat riwayat dari jalan yang laen:
حدثنا
عبد الله حدثني أبي قال حدثناه إسحاق بن يوسف أخبرنا سفيان عن أبي إسحاق
عن عاصم عن على رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم انه قال : لا
تصلوا بعد العصر الا ان تصلوا والشمس مرتفعة قال سفيان فما أدري بمكة يعنى
أو بغيرها
تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح رجاله ثقات رجال الشيخين غير عاصم بن ضمرة السلولي فقد روى له أصحاب السنن
Telah
menceritakan kepada kami ‘Abdullah, telah menceritakan kepadaku Ayahku
berkata, telah menceritakannya kepada kami Ishaq bin Yusuf, telah
mengabarkan kepada kami Sufyan dari Abi Ishaq dari ‘Ashim dari ‘Ali
radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sesungguhnya
beliau bersabda, “Janganlah kalian shalat setelah ashar kecuali shalat
pada saat matahari masih tinggi.”
Sufyan berkata: Saya tidak tahu apakah itu di Makkah atau tepat lainnya.
Ta’liq
Syu’aib Al Arnauth: Sanadnya Shahih, para perawinya Tsiqat, perawi
Syaikhain, kecuali ‘Ashim bin Dhamrah As Saluli, telah meriwayatkan
darinya ashhabus sunan.”
)Musnad Ahmad 1/130 No. 1076).
Masih ade lagi riwayat dari jalur laennya, tapi ane males cape
ngetiknye. Intinya riwayat dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu
adalah riwayat yang shahih, tidak ada keraguan padanya.
Dan dari hadits tersebut terambil pemahaman bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengkhususkan shalat ba’da ashar
hanya untuk dirinya saja, asal shalat tersebut dilakukan ketika matahari
masih tinggi.
Kalo emang bener Syaikh Yahya hafizhahullah berpendapat bahwa shalat
ba’da ashar merupakan kekhususan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam maka ane katakan beliau telah tersalah dalam ijtihadnye dan
insya’ Allah beliau mendapatkan satu pahala.
Selesai apa yang ditulis oleh saudara kita itu.
Saya –Abu Fairuz- dapati bahwasanya kritikan saudara kita terhadap
fatwa Syaikh kami –semoga Alloh menjaganya- itu kritikan yang tenang dan
ilmiyyah, kita bersyukur padanya atas curahan perhatiannya pada sunnah
dan kesungguhannya berusaha mencocoki sunnah –sesuai dengan
kesanggupannya-, sementara banyak sekali orang yang tidak peduli pada
sunnah, merasa cukup dengan bid’ah-bid’ah dan syahwat-syahwat, dan
banyak dari mereka terpedaya oleh kehidupan dunia sehingga tidak
mempedulikan hak-hak Alloh.
Maka saya memandang perlu untuk menulis risalah persaudaraan dan
diskusi ilmiyyah –sebatas taufiq Alloh pada saya- yang sekalipun ringkas
tapi dia mencakup sekian banyak hukum-hukum sholat di waktu-waktu
terlarang yang lima itu, agar menjadi sempurnalah penggambaran
masalah-masalah ini, sehingga mudah memahaminya dan terurailah
kerumitan-kerumitan di dalamnya dengan seidzin Alloh ta’ala.
Dan saya bersyukur pada Syaikh kami Al ‘Allamah Abu Abdirrohman Yahya
bin Ali Al Hajuriy حفظه الله yang telah mengoreksi dan memberikan
perhatian besar pada risalah yang sederhana ini, dan saya mohon pada
Alloh agar membalas beliau dengan pahala yang terbaik.
Dan saya mohon kepada Alloh agar menjadikan kita sebagai orang-orang
yang memurnikan agama untuk-Nya, mencari wajah-Nya, dan setia dengan
kebenaran saja serta jauh dari hawa nafsu. Maka Alloh sajalah yang
memberikan taufiq kepada jalan yang lurus, dan tiada taufiqku kecuali
dengan pertolongan Alloh, kepada-Nya semata saya bertawakkal, dan hanya
kepada-Nya saya kembali.
Bab Satu: Tahapan Pembicaraan Yang mencakup Kegembiraan Kami Atas Semangat Kaum Mukminin Dalam Beribadah Kepada Alloh Sesuai Syari’at
Sesungguhnya Alloh ta’ala telah menyeru pada hamba untuk melaksanakan
perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dalam keadaan mereka memurnikan
agama hanya kepada-Nya. Alloh berfirman:
﴿وَاعْبُدُوا الله وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا﴾ [النساء: 36]
“Dan beribadahlah kalian kepada Alloh dan janganlah kalian menyekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.”
Alloh سبحانه berfirman:
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾ [التوبة: 31].
“Padahal
tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada sesembahan
yang satu, tiada sekutu bagi-Nya, Mahasuci Dia terhadap apa yang mereka
persekutukan.”
Dan Alloh ta’ala telah menjelaskan besarnya kebutuhan mereka kepada-Nya. Alloh berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى الله وَالله هُوَ
الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ * إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ
جَدِيدٍ * وَمَا ذَلِكَ عَلَى الله بِعَزِيزٍ﴾ [فاطر: 15 - 17]،
“Hai
manusia, kalianlah yang sangat butuh kepada Alloh; dan Alloh Dialah
yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia
menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kalian dan mendatangkan makhluk
yang baru (untuk menggantikan kalian). Dan yang demikian itu sekali-kali
tidak sulit bagi Alloh.”
Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَالله
الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ
قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ﴾ [محمد: 38].
“Dan
Alloh itulah yang Maha Kaya sedangkan kalianlah orang-orang yang sangat
butuh (kepada-Nya); dan jika kalian berpaling niscaya Dia akan
mengganti (kalian) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti
kalian ini.”
Dan
dalam hadits Abu Dzar Dari Abu Dzarr radhiyallohu ‘anhu dari Nabi
-shollallohu ‘alaihi wasallam-, di dalam riwayat beliau dari Alloh
tabaroka wata’ala yang berfirman:
«يا
عبادي إني حرمت الظلم على نفسي وجعلته بينكم محرما فلا تظالموا، يا عبادي
كلكم ضال إلا من هديته فاستهدوني أهدكم، يا عبادي كلكم جائع إلا من أطعمته
فاستطعموني أطعمكم، يا عبادي كلكم عار إلا من كسوته فاستكسوني أكسكم، يا
عبادي إنكم تخطئون بالليل والنهار وأنا أغفر الذنوب جميعا فاستغفروني أغفر
لكم، يا عبادي إنكم لن تبلغوا ضري فتضروني ولن تبلغوا نفعي فتنفعوني، يا
عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم كانوا على أتقى قلب رجل واحد منكم
ما زاد ذلك في ملكي شيئا، يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم كانوا
على أفجر قلب رجل واحد ما نقص ذلك من ملكي شيئا، يا عبادي لو أن أولكم
وآخركم وإنسكم وجنكم قاموا في صعيد واحد فسألوني فأعطيت كل إنسان مسألته ما
نقص ذلك مما عندي إلا كما ينقص المخيط إذا أدخل البحر. يا عبادي إنما هي
أعمالكم أحصيها لكم ثم أوفيكم إياها فمن وجد خيرا فليحمد الله ومن وجد غير
ذلك فلا يلومن إلا نفسه».
“Wahai
para hamba-Ku sesungguhnya Aku mengharomkan kezholiman terhadap
diri-Ku, dan kujadikan hal itu harom di antara kalian, maka janganlah
kalian saling menzholimi. Wahai para hamba-Ku, kalian semua itu tersesat
kecuali orang yang Kuberi petunjuk, maka mohonlah petunjuk pada-Ku
niscaya akan Kuberi kalian petunjuk. “Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian semua itu lapar kecuali orang yang Aku beri makanan, maka mohonlah makanan kepada-Ku, Aku akan beri kalian makanan. Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian semua itu telanjang kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mohonlah pakaian pada-Ku, niscaya Aku akan beri kalian pakaian. Wahai
para hamba-Ku, sesungguhnya kalian itu melakukan kesalahan di waktu
malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya, maka mohonlah
ampunan kepada-Ku, Aku akan mengampuni untuk kalian. Wahai para
hamba-Ku, sesungguhnya kalian tak akan bisa membahayakan diri-Ku dan tak
akan bisa memberikan manfaat pada-Ku. Wahai para hamba-Ku, seandainya
orang pertama dan yang terakhir dari kalian, dari kalangan jin dan
manusia semuanya di atas hati orang yang paling bertaqwa
dari kalian, yang demikian itu tak bisa menambahi ke dalam kekuasaan-Ku
sedikitpun. Wahai para hamba-Ku, seandainya orang pertama dan yang terakhir dari kalian, dari kalangan jin dan manusia semuanya di atas hati orang yang paling jahat dari kalian, yang demikian itu tak bisa mengurangi kekuasaan-Ku sedikitpun. Wahai para hamba-Ku, seandainya orang pertama dan yang terakhir dari kalian, dari kalangan jin dan manusia semuanya
berdiri di suatu tempat yang tinggi lalu semuanya meminta pada-Ku, lalu
Aku penuhi setiap orang permintaannya, maka yang demikian itu tak bisa
mengurangi apa yang ada di sisi-Ku kecuali seperti jarum yang mengurangi
air jika dimasukkan ke dalam lautan. Wahai para hamba-Ku,
sesungguhnya ini hanyalah amalan kalian yang Aku hitung untuk kalian,
lalu Aku akan menunaikan balasannya kepada kalian. Maka
barangsiapa mendapatkan kebaikan, maka hendaknya dia memuji Alloh. Dan
barangsiapa mendapatkan yang selain itu maka janganlah dia mencela
kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim (2577)/cet. Maktabatur Rusyd).
Maka barangsiapa mengetahui betapa besarnya kebutuhan dia pada Robbnya,
maka sungguh dia akan berupaya untuk mencari kedekatan kepada-Nya. Dan
barangsiapa mendekatkan diri kepada-Nya dengan jujur, Alloh akan
mencintainya dan mendekatkannya kepada diri-Nya, serta memberinya
pahala-Nya yang agung di dunia dan akhirat. Dari Abu Huroiroh رضي الله
عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«إن
الله قال: من عادى لي وليا فقد آذنته بالحرب. وما تقرب إلي عبدي بشـيء أحب
إلي مما افترضت عليه. وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه. فإذا
أحببته كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها،
ورجله التي يمشي بها، وإن سألني لأعطينه، ولئن استعاذني لأعيذنه. وما ترددت
عن شيء أنا فاعله ترددي عن نفس المؤمن يكره الموت وأنا أكره مساءته».
“Alloh
ta’ala berfirman: Barangsiapa memusuhi seorang wali-Ku, maka sungguh
Aku mengumumkan peperangan dengannya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan
diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada apa yang
Aku wajibkan terhadapnya. Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri
dengan nafilah-nafilah (mustahabbah) sampai Aku mencintainya. Maka jika
Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia
mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang
dengannya dia merenggut, dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika
dia meminta pada-Ku pastilah Aku akan memberinya. Dan jika dia minta
perlindungan pada-Ku, pastilah Aku akan melindunginya. Dan tidaklah Aku
ragu terhadap sesuatu yang hendak Kukerjakan sebagaimana keraguan-Ku
terjadap jiwa mukmin. Dia benci kematian, dan Aku benci menyakitinya.” (HR. Al Bukhoriy (6502)/cet. Darus Salam).
Dan dari Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata: Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«يقول
الله تعالى: أنا عند ظن عبدي بي وأنا معه إذا ذكرني، فإن ذكرني في نفسه
ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملإ ذكرته في ملإ خير منهم، وإن تقرب إلي بشبر
تقربت إليه ذراعا، وإن تقرب إلي ذراعا تقربت إليه باعا، وإن أتاني يمشي
أتيته هرولة». (أخرجه البخاري (7405/دار السلام) ومسلم (2675/مكتبة الرشد)).
“Alloh ta’ala berfirman:
Aku sesuai dugaan hamba-Ku terhadap-Ku. Dan Aku bersamanya jika dia
mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya
dalam diri-Ku. Dan jika dia mengingat-Ku dalam kumpulan orang mulia,
Aku akan mengingatnya dalam kumpulan orang mulia yang lebih baik
daripada mereka. Jika hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, Aku
akan mendekatinya sehasta. Jika hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku
sehasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Jika dia mendatangi-Ku dengan
berjalan, Aku akan mendatanginya dengan lari-lari kecil.” (HR. Al Bukhoriy ((7405)/Darus Salam) dan Muslim ((2675)/Maktabatur Rusyd)).
Dan termasuk dari sarana paling agung untuk mendekatkan diri kepada
Alloh adalah: sholat, dan dia itu adalah termasuk penopang terbesar bagi
Islam.
Sesungguhnya sholat itu adalah awal kewajiban dalam peribadatan,
sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas رضي الله عنهما :
لما بعث النبي صلى الله عليه وسلم معاذا نحو اليمن قال له: «إنك
تقدم على قوم من أهل الكتاب، فليكن أول ما تدعوهم إلى أن يوحِّدوا الله
تعالى، فإذا عرفوا ذلك فأخبرهم أن الله فرض عليهم خمس صلوات في يومهم
وليلتهم» الحديث.
“Bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم ketika mengutus Mu’adz رضي الله عنه untuk berdakwah di Yaman, beliau bersabda: “Sesungguhnya
engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka hendaknya yang
pertama kali engkau seru mereka kepadanya adalah agar mereka
mentauhidkan Alloh ta’ala. Maka jika mereka telah mengetahui itu, maka
kabari mereka bahwasanya Alloh mewajibkan mereka lima sholat di siang dan malam mereka…” (HR. Al Bukhoriy ((1458)/Darus Salam) dan Muslim ((19)/Maktabatur Rusyd).
Dan dari Abu Malik Al Asyja’iy, dari ayahnya yang berkata:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أسلم الرجل كان أول ما يعلمنا الصلاة، أو قال: «علِّمه الصلاة».
“Dulu
Rosululloh صلى الله عليه وسلم jika ada orang yang masuk Islam, maka
yang pertama kali beliau ajarkan pada kita adalah sholat, atau beliau
berkata: “Ajarilah dia sholat.”” (HR. Al Bazzar (2765) dan
dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih
Mimma Laisa Fish Shohihain” no. (893)/Darul Atsar).
Dan Alloh sendirilah yang mengurusi langsung pewajibannya dengan
mengangkat Nabi-Nya dan kekasih-Nya صلى الله عليه وسلم ke atas langit
yang tujuh, lalu Dia mewajibkan pada beliau dan pada umatnya lima
sholat. Dalil-dalil tentang itu telah diketahui.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Sholat itu adalah awal ibadah yang
Alloh wajib. Dan sholat lima waktu itu Alloh sendirilah yang mengurusi
langsung pewajibannya dengan mengajak bicara Rosul-Nya pada malam
Mi’roj.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 428/Darul Wafa/Ihalah).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله menyebutkan beberapa kekhususan sholat:
“… dan karena Alloh itu mewajibkan sholat di langit pada malam Mi’roj.”
(“Ash Sholah Wa Hukmu Tarikiha”/hal. 22/Darul Imam Ahmad).
Dan ini semua menunjukkan agungnya nilai sholat di sisi Alloh, dalam keadaan Dia Mahakaya dan Maha Terpuji.
Dan termasuk yang menunjukkan agungnya pahala sholat adalah hadits Abu
Umamah yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«اعلم أنك لن تسجد لله سجدة إلا رفع الله لك بها درجة، وحط عنك بها خطيئة».
“Ketahuilah,
sesungguhnya engkau tidaklah dirimu bersujud untuk Alloh satu kali,
kecuali Alloh akan mengangkat untukmu dengannya satu derajat, dan
menghapuskan darimu dengannya satu kesalahan.” (HR. Ahmad
((22141)/Ar Risalah) dan dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله
dalam “Ash Shohihul Musnad” (488)/Darul Atsar).
Dari
Mi’dan bin Abi Tholhah Al Ya’muriy yang berkata: “Aku berjumpa dengan
Tsauban pembantu Rosululloh صلى الله عليه وسلم , maka kukatakan padanya:
kabarilah saya dengan suatu amalan yang jika saya mengamalkannya, Alloh
akan memasukkan saya dengannya Jannah. Atau berkata: dengan amalan yang
paling disukai oleh Alloh. Maka beliau diam. Lalu saya tanya lagi,
ternyata beliau diam. Lalu saya bertanya pada kali yang ketiga, maka
beliau berkata: Aku bertanya tentang itu pada Rosululloh صلى الله عليه
وسلم maka beliau menjawab:
«عليك بكثرة السجود لله، فإنك لا تسجد لله سجدة إلا رفعك الله بها درجة، وحط عنك بها خطيئة»
“Engkau
harus memperbanyak sujud untuk Alloh, karena sungguh tidaklah engkau
bersujud satu kali untuk Alloh, kecuali Alloh akan mengangkat untukmu
dengannya satu derajat, dan menghapuskan darimu dengannya satu
kesalahan.”
Mi’dan
berkata: kemudian aku berjumpa dengan Abud Darda رضي الله عنه lalu
kutanya beliau, maka beliau menjawabku seperti apa yang diucapkan
Tsauban padaku.” (HR. Muslim (488)/Maktabatur Rusyd).
Dan termasuk dalil pendorong untuk melaksanakan sholat sunnah adalah
dalil yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim رحمه الله yang berkata:
meriwayatkan pada kami Muhammad bin Abdillah bin Numair: meriwayatkan
pada kami Abu Kholid –yaitu Sulaiman bin Hayyan- dari Dawud bin Abi
Hind: dari An Nu’man bin Salim: dari Amr bin Aus yang berkata:
meriwayatkan padaku ‘Anbasah bin Abi Sufyan dalam masa sakitnya yang
beliau meninggal karenanya, suatu hadits yang beliau membisikkannya
padaku dengan berkata: aku mendengar Ummu Habibah yang berkata:
سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول: «من صلى اثنتي عشرة ركعة في يوم وليلة بني له بهن بيت في الجنة».
Aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang bersabda: “Barangsiapa sholat dua belas rekaat dalam sehari dan semalam, akan dibangunkan untuknya satu rumah di Jannah.”
Ummu Habibah berkata: “Maka aku tidak meninggalkannya sejak aku mendengar itu dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم .”
‘Anbasah berkata: “Maka aku tidak meninggalkannya sejak aku mendengar itu dari Ummu Habibah.”
Amr bin Aus berkata: “Aku tidak meninggalkannya sejak aku mendengar itu dari ‘Anbasah.”
An Nu’man bin Salim berkata: “Aku tidak meninggalkannya sejak aku mendengar itu dari Amr bin Aus.”
(HR. Muslim (728)/Maktabatur Rusyd).
Maka disebabkan oleh pahala sholat-sholat itu para muslimin yang
mendapatkan taufiq berlomba-lomba melaksanakannya dalam rangka
mendekatkan diri pada Alloh dan mencari wajah-Nya yang mulia, sehingga
mereka memperhatikan perkara-perkara yang wajib dan mustahab, dan Alloh
tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. Alloh
ta’ala berfirman:
﴿إِنَّ الله لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا﴾ [النساء: 40]
“Sesungguhnya
Alloh tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada
kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan
memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.”
Bab Dua: Jalan Petunjuk dan Keselamatan Adalah Dengan Mengikuti Rosul صلى الله عليه وسلم
Hendaknya para hamba mengetahui bahwasanya ridho Alloh itu tidak
dicapai kecuali dengan menempuh jalan Rosululloh صلى الله عليه وسلم .
Yang demikian itu dikarenakan Alloh telah mengutus beliau untuk
menjelaskan syariat kepada mereka. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ﴾ [النحل: 44].
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”
Maka mengikuti Rosul صلى الله عليه وسلم dalam memahami syariat itulah
jalan petunjuk dan rohmat. Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَمَا
أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي
اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ﴾ [النحل: 64]
“Dan
Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar
kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu
dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
Maka barangsiapa menghendaki kelurusan di atas shirothol mustaqim, maka dia harus mengikuti Rosul صلى الله عليه وسلم . Alloh ta’ala berfirman:
﴿وَإِنَّكَ
لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ * صِرَاطِ الله الَّذِي لَهُ مَا فِي
السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ أَلَا إِلَى الله تَصِيرُ الْأُمُورُ﴾ [الشورى: 52، 53].
“Dan
Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
(yaitu) jalan Alloh yang kepunyaan-Nya sajalah segala apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Alloh-lah
kembali semua urusan.”
Alloh ta’ala berfirman:
﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ الله فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ الله وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَالله غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾ [آل عمران/31].
“Katakanlah:
Jika kalian mencintai Alloh, maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan
mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Alloh itu Ghofur
(Maha Pengampun) dan Rohim (Maha Menyayangi para hamba).” (QS. Ali Imron: 31).
Al
Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan
hakim bagi setiap orang yang mengaku cinta pada Alloh, tapi dia tidak
berada di atas jalan Muhammad صلى الله عليه وسلم , karena dia itu
sungguh pada hakikatnya telah berdusta di dalam pengakuannya, sampai dia
itu mau mengikuti syariat Muhammad صلى الله عليه وسلم dan agama Nabi
di dalam seluruh ucapan dan keadaannya, sebagaimana telah tetap di dalam
“Ash Shohih” dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang bersabda:
«مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عليه أمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ»
“Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang bukan dari urusan agama kami maka amalannya itu tertolak.”
Oleh karena itulah Alloh berfirman: (yang artinya:) “Katakanlah: Jika kalian mencintai Alloh, maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan mencintai kalian”
Yaitu kalian akan mendapatkan sesuatu yang melebihi apa yang kalian
cari, yaitu diakuinya cinta kalian pada-Nya. Yang akan kalian dapatkan
adalah: Alloh cinta pada kalian, dan itu lebih agung daripada yang
pertama. sebagaimana sebagian orang bijak berkata: “Bukanlah yang
penting itu kalian mencintai, tapi yang penting adalah: kalian
dicintai.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/1/hal. 494-495/cet. Darus
Shiddiq).
Al ‘Irbadh bin Sariyah رضي الله عنه berkata:
صلى
بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم، ثم أقبل علينا فوعظنا موعظة
بليغة، ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب، فقال قائل: يا رسول
الله كأن هذه موعظة مودّع، فماذا تعهد إلينا؟ فقال: «أوصيكم بتقوى الله
والسمع والطاعة وإن عبداً حبشيّاً، فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا
كثيراً فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين، تمسكوا بها وعضّوا
عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة
ضلالة».
Rosululloh
صلى الله عليه وسلم pernah mengimami kami sholat pada suatu hari,
kemudian beliau menghadapkan wajah pada kami, lalu menasihati kami
dengan nasihat yang tajam, yang dengannya air mata berlinang, dan hati
merasa takut. Maka seseorang berkata: “Wahai Rosululloh, seakan-akan ini
adalah nasihat orang yang hendak berpisah, maka apakah perjanjian yang
Anda ambil dari kami?” maka beliau bersabda: “Kuwasiatkan kalian
untuk bertaqwa pada Alloh, dan mendengar dan taat kepada pemerintah,
sekalipun dia itu adalah budak Habasyah, karena orang yang hidup di
antara kalian sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka
wajib bagi kalian untuk memegang sunnahku dan sunnah Al Khulafaur
Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Pegang teguhlah dia dan gigitlah dia
dengan geraham kalian. Dan hindarilah setiap perkara yang muhdats
karena yang muhdats itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu kesesatan.”
(HR. Abu Dawud ((4594)/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah) dan lainnya dan
dihasankan oleh Al Wadi’iy -rohimahullohu- dalam “Ash Shohihul Musnad”
((921)/Darul Atsar).
Dan dari ‘Aisyah رضي الله عنها yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ ».
“Barangsiapa membikin dalam urusan agama kami perkara yang tidak ada dalam agama kami, maka dia itu tertolak.” (HR. Al Bukhoriy ((2697)/Darul Kitubil ‘Ilmiyyah) dan Muslim ((1718)/Dar Ibnil Jauziy) dengan lafazh: “yang bukan berasal dari agama ini”).
Maka merasa cukup dengan jalan Nabi صلى الله عليه وسلم merupakan
perkara yang sangat harus dan amat dibutuhkan. Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه
الله berkata –barangkali menukil dari Ibnul Jauziy رحمه الله -:
“Sesungguhnya tiada keraguan bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم
itu di atas jalan yang lurus. Dan barangsiapa ragu tentang ini maka dia
itu bukan muslim. Dan barangsiapa tahu hal itu, maka ke manakah dia
hendak berpaling dari sunnah beliau? Apa sih yang dicari sang hamba
selain dari jalan beliau? Dan hendaknya dia berkata pada dirinya
sendiri: “Bukankah engkau mengetahui bahwasanya jalan Rosululloh صلى
الله عليه وسلم itulah jalan yang lurus?” jika jiwanya menjawab: “Iya,”
maka katakan padanya: “Apakah beliau dulu melakukan ini?” –yaitu
mengikuti waswas- Maka jiwanya akan menjawab: “Tidak,” Maka katakan
padanya: “Maka tidak ada setelah kebenaran kecuali kesesatan. Dan tidak
ada setelah jalan ke Jannah kecuali jalan ke Neraka, dan bukankah tidak
ada setelah jalan Alloh dan jalan Rosul-Nya kecuali jalan setan? Jika
engkau mengikuti jalan setan maka engkau adalah teman pengiringnya. Dan
nanti engkau akan berkata:
يا ليت بيني وبينك بعد المشرقين فبئس القرين.
“Wahai, andaikata antara diriku dan dirimu sejauh barat dan timur. Maka setan itu adalah sejelek-jelek teman pengiring.”
Maka
hendaknya dia melihat kepada keadaan para salaf dalam mengikuti
Rosululloh صلى الله عليه وسلم lalu hendaknya dia meneladani mereka dan
memilih jalan mereka.”
(“Ighotsatul Lahfan”/hal. 142/Dar Ibni Zaidun).
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Az Zuhriy berkata: “Dulu para ulama
kami berkata: berpegang teguh dengan sunnah merupakan keselamatan.” Dan
Malik berkata: “Sunnah adalah perahu Nuh, barangsiapa menaikinya dia
akan selamat, dan barangsiapa tertinggal darinya dia akan tenggelam.”
Yang demikian itu dikarenakan bahwasanya sunnah, syariah dan manhaj
inilah adalah jalan yang lurus, sebagaimana firman Alloh ta’ala:
﴿إنا أرسلناك شاهدا ومبشرا ونذيرا وداعيا إلى الله بإذنه وسراجا منيرا وبشر المؤمنين بأن لهم من الله فضلا كبيرا﴾ [الأحزاب: 45-46]
“Sesungguhnya
Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan pemberi
peringatan serta pengajak kepada Alloh dengan seidzin-Nya dan cahaya
terang yang bercahaya, dan berilah mukminin kabar gembira bahwasanya
mereka itu akan mendapatkan karunia yang besar dari Alloh.”
(“Majmu’ul Fatawa”/4/hal. 57/Darul Wafa/ihalah).
Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله berkata: “Dan orang-orang yang
tertinggal dari perahu tersebut adalah bagaikan kaum Nuh, mereka
tenggelam lalu dibakar dan mereka diteriaki di hadapan seluruh alam:
﴿وقيل بعدا للقوم الظالمين﴾
“Dan dikatakan: celakalah bagi kaum yang zholim itu.”
﴿وما ظلمناهم ولكن كانوا هم الظالمين﴾
“Dan tidaklah Kami yang menzholimi mereka akan tetapi mereka itulah yang zholim.”
Kemudian diserulah dengan lidah syariat dan taqdir sebagai realisasi
penunggalan Alloh dan penetapan hujjah-Nya, dan Dia itu Yang Mahaadil:
﴿قل فلله الحجة البالغة فلو شاء لهداكم أجمعين﴾.
“Katakanlah:
“Maka hanya milik Alloh sajalah hujjah yang jelas dan kuat, maka jika
Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kalian semuanya”.
(selesai dari “Madarijus Salikin”/1/hal. 199).
Dan jika kita telah mengetahui ini, maka hendaknya kita mengetahui
bahwasanya sholat-sholat itu telah dijelaskan oleh Rosululloh صلى الله
عليه وسلم , maka kita dalam masalah itu wajib mengikuti Nabi صلى الله
عليه وسلم . Dari Abu Robah dari Sa’id ibnul Musayyab, bahwasanya beliau
melihat ada orang yang sholat setelah terbit fajar lebih dari dua
rekaat, dia memperbanyak ruku’ dan sujud. Maka beliau melarangnya. Lalu
orang ini berkata: “Wahai Abu Muhammad, apakah Alloh akan menyiksaku
karena aku sholat?” Beliau menjawab: “Tidak, akan tetapi Alloh akan menyiksamu karena engkau menyelisihi sunnah.”
(diriwayatkan oleh Abdurrozzaq dalam “Al Mushonnaf” ((4775)/Al Maktabul
Islamiy) dan Al Baihaqiy dalam “Al Kubro” (2/hal. 466/Darul Ma’rifah)
dengan sanad shohih([1])).
Dan bukanlah termasuk dari sunnah: melaksanakan sholat nafilah
(tambahan, bukan wajib) yang mutlak (yang tak punya sebab khusus) di
waktu yang terlarang. Maka kita harus berupaya mencocoki sunnah dan
mencukupkan diri dengan syariat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Syaikhul Islam رحمه الله ditanya tentang orang yang melihat seseorang
sholat nafilah di waktu terlarang lalu dia berkata kepadanya: “Nabi صلى
الله عليه وسلم melarang sholat di waktu ini,” dan dia menyebutkan hadits
yang datang tentang dibencinya hal itu kepadanya. Tapi orang tadi
menjawab: “Aku tak mau mendengarnya, aku sholat semauku.” Maka apa yang
wajib dilakukannya?
Maka beliau رحمه الله menjawab: “Segala pujian bagi Alloh, adapun
sholat sunnah yang tidak memiliki sebab, maka dia itu terlarang
dilakukan setelah sholat Fajar (Shubuh) sampai terbitnya matahari, dan
setelah sholat Ashr sampai terbenamnya matahari, dengan kesepakatan para
imam. Dan dulu Umar ibnul Khoththob memukul orang yang sholat setelah
(sholat) Ashr. Maka barangsiapa melakukan sholat itu, maka dia berhak
dihukum, dalam rangka kita mengikuti sunnah Umar ibnul Khoththob, salah
satu Khulafaur Rosyidin, karena telah mutawatir hadits-hadits dari Nabi
صلى الله عليه وسلم yang melarang tentang sholat tadi.
Adapun sholat yang memiliki sebab, seperti tahiyyatul masjid, sholat
gerhana, maka ada perselisihan di sini dan ada penakwilan. Jika orang
tadi melakukan sholat yang boleh di dalamnya ijtihad maka dia tidak
dihukum. Adapun jika dia menolak hadits-hadits tanpa hujjah, dan mencaci
orang yang melarang, dan dia berkata pada orang yang melarang: “Aku
sholat semauku” maka orang ini perlu dihukum karena ucapannya itu,
karena seseorang itu wajib sholat sebagaimana yang disyariatkan untuknya, bukan sebagaimana apa yang dia maukan. Wallohu a’lam.”
(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/23/hal. 218-219/Darul Wafa/ihalah).
Dan akan datang penyebutan sebagian dalil tentang hal itu dan penguraian kerumitan dalam masalah ini, insya Alloh.
Bab Tiga: Waktu-waktu Yang Terlarang Untuk Dimaksudkan Sholat Di Situ
Sesungguhnya Alloh ta’ala melalui lidah Rosul-Nya صلى الله عليه وسلم
telah menetapkan waktu-waktu sholat sunnah. Dari ‘Amr bin ‘Abasah As
Sulamiy رضي الله عنه yang berkata:
… فقلت: يا نبي الله أخبرني عما علمك الله وأجهله. أخبرني عن الصلاة ؟ قال: «صل
صلاة الصبح ثم أقصر عن الصلاة حتى تطلع الشمس حتى ترتفع، فإنها تطلع حين
تطلع بين قرني شيطان، وحينئذ يسجد لها الكفار. ثم صل فإن الصلاة مشهودة
محضورة حتى يستقل الظل بالرمح ثم أقصر عن الصلاة فإن حينئذ تسجر جهنم. فإذا
أقبل الفيء فصل فإن الصلاة مشهودة محضورة حتى تصلي العصر، ثم أقصر عن
الصلاة حتى تغرب الشمس، فإنها تغرب بين قرني شيطان، وحينئذ يسجد لها
الكفار». الحديث.
“…
maka kukatakan: “Wahai Nabi Alloh, kabarilah saya tentang apa yang
Alloh ajarkan kepada Anda dan tidak saya ketahui. Kabarilah saya tentang
sholat.” Beliau menjawab: “Kerjakanlah sholat Shubuh, kemudian
hentikanlah sholat sampai terbit matahari, sampai matahari meninggi,
karena matahari itu ketika terbit dia itu terbit di antara dua tanduk
setan. Dan ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari. Kemudian
sholatlah karena sesungguhnya sholat itu disaksikan dan dihadiri (oleh
malaikat) sampai bayang-bayang tombak itu menjadi sangat sedikit,
kemudian hentikanlah sholat, karena ketika itu Jahannam sedang
dinyalakan. Maka apabila fai (kecondongan) telah datang, maka sholatlah,
karena sesungguhnya sholat itu disaksikan dan dihadiri (oleh malaikat)
sampai engkau sholat Ashr, kemudian hentikanlah sholat sampai terbenam
matahari, karena matahari itu terbenam di antara dua tanduk setan. Dan
ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari.” Sampai akhir hadits. (HR. Muslim (832)/Maktabatur Rusyd).
Diambil faidah dari hadits ini bahwasanya ada beberapa waktu yang kita dilarang sholat di situ, yaitu:
Yang pertama: seusai sholat Shubuh
Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda dalam hadits ‘Amr bin ‘Abasah As Sulamiy رضي الله عنه tadi:
«صل صلاة الصبح ثم أقصر عن الصلاة حتى تطلع الشمس حتى ترتفع فإنها تطلع حين تطلع بين قرني شيطان وحينئذ يسجد لها الكفار».
“Kerjakanlah
sholat Shubuh, kemudian hentikanlah sholat sampai terbit matahari,
sampai matahari meninggi, karena matahari itu ketika terbit dia itu
terbit di antara dua tanduk setan. Dan ketika itu orang-orang kafir
sujud kepada matahari.“
Dan dari Samuroh bin Jundub رضي الله عنه yang berkata:
(نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يصلى بعد الصبح حتى تطلع الشمس ؛ فإنها تطلع على قرن أو قرني شيطان).
“Rosululloh صلى الله عليه وسلم melarang sholat seusai shubuh sampai matahari terbit, karena matahari itu terbit di antara dua tanduk setan.” (HR.
Ibnu Abi ‘Ashim dalam “Al Ahad Wal Matsani” (1184) dan dihasankan oleh
Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih Mimma Laisa Fish
Shohihain” no. (858)).
Kedua: ketika matahari di pertengahan langit
Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda dalam hadits ‘Amr bin ‘Abasah As Sulamiy رضي الله عنه tadi:
«حتى يستقل الظل بالرمح ثم أقصر عن الصلاة فإن حينئذ تسجر جهنم فإذا أقبل الفيء فصل».
“…
sampai bayang-bayang tombak itu menjadi sangat sedikit, kemudian
hentikanlah sholat, karena ketika itu Jahannam sedang dinyalakan.”
Ahmad bin Umar Al Qurthubiy رحمه الله berkata: “Ucapan beliau: “sampai bayang-bayang tombak itu sangat sedikit”
yaitu: bayang-bayangnya menjadi sedikit, seakan-akan beliau berkata:
“Sampai bayang-bayang tombak itu menjadi sedikit.” Sebagaimana firman
Alloh ta’ala:
﴿ومن يرد فيه بإلحاد بظلم﴾.
“Dan barangsiapa menginginkan penyimpangan dengan kezholiman di situ”
Abu Dawud telah meriwayatkannya dengan lafazh:
«حتى يعدل الرمح ظله»
“Sampai tombak itu setara bayangannya.“([2])
Al Khoththobiy berkata: “Ini ketika matahari telah tegak, dan bayang-bayang mencapai puncak kependekannya.”
(selesai semua penukilan dari “Al Mufhim”/Al Qurthubiy/7/hal. 95).
Dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«إن الشمس تطلع حين تطلع بين قرني شيطان قال فكنا ننهى عن الصلاة عند طلوع الشمس وعند غروبها ونصف النهار».
“Sesungguhnya
matahari itu ketika terbit dia itu terbit di antara dua tanduk setan.
Maka kita dilarang dari sholat ketika terbit matahari dan ketika
terbenamnya serta ketika di tengah hari.” (HR. Abu Ya’la (4977)
dan dihasankan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush
Shohih Mimma Laisa Fish Shohihain” no. (856)).
Dan dari Uqbah bin Amir Al Juhaniy رضي الله عنه yang berkata:
(ثلاث
ساعات كان رسول الله صلى الله عليه و سلم ينهانا أن نصلي فيهن أو أن نقبر
فيهن موتانا: حين تطلع الشمس بازغة حتى ترتفع، وحين يقوم قائم الظهيرة حتى
تميل الشمس، وحين تضيف الشمس للغروب حتى تغرب).
“Ada tiga jam yang Rosululloh صلى الله عليه وسلم
melarang kami sholat di situ atau menguburkan jenazah kami di situ:
ketika matahari terbit hingga meninggi, ketika di tengah hari sampai
matahari mencondong, dan ketika matahari mau terbenam sampai terbenam.” (HR. Muslim (831)/Maktabatur Rusyd).
Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Yang dimaksudkan dengan jam
(ساعة) dalam bahasa Arob dan syariat adalah: waktu terbatas, sama saja
apakah dia itu panjang ataukah pendek. Karena itulah kalian dapati dalam
hadits orang yang datang di hari Jum’at:
«من جاء في الساعة الأولى … من جاء في الساعة الثانية، …»
“Barangsiapa datang pada jam yang pertama,… barangsiapa datang pada jam yang kedua, …”([3]) dan seterusnya.
Bersamaan dengan bahwasanya jam-jam ini berbeda-beda panjang dan
pendeknya sesuai dengan waktu dan musim. Hanya saja jika dikatakan:
«ساعة من نهار»
“Satu jam dari waktu siang.”([4])
Dia itu tidak melampaui siang hari.”
(selesai dari “Fathu Dzil Jalali Wal Ikrom”/Al Imam Ibnu ‘Utsaimin/1/hal. 439/cet. Al Maktabatul Islamiyyah).
Al Imam Al Mardawiy رحمه الله berkata: “Abu Ubaid berkata: sabda beliau
(حين تضيف) yaitu condongnya matahari. Tamu dinamakan dhoif karena dia
itu condong kepadamu dan singgah di tempatmu.” (“Al Hawil Kabir”/Al
Mawardiy/2/hal. 273/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).
Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Sabda beliau (حين يقوم قائم
الظهيرة) yaitu ketika matahari di pertengahan. Dan maknanya adalah:
ketika tidak tersisa bayangan bagi orang yang berdiri di timur ataupun
di barat.” (“Al Minhaj”/An Nawawiy/6/hal. 114).
Beliau رحمه الله juga berkata: “Dan di dalam hadits ini ada ucapan yang
terang tentang terlarangnya sholat ketika itu sampai matahari
tergelincir. Dan ini adalah madzhab Asy Syafi’iy dan mayoritas ulama.”
(“Al Minhaj”/An Nawawiy/6/hal. 117).
Ketiga: setelah sholat Ashr
Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda dalam hadits ‘Amr bin ‘Abasah As Sulamiy رضي الله عنه tadi:
«حتى تصلي العصر ثم أقصر عن الصلاة حتى تغرب الشمس فإنها تغرب بين قرني شيطان وحينئذ يسجد لها الكفار».
“Sampai
engkau sholat Ashr, kemudian hentikanlah sholat sampai terbenam
matahari, karena matahari itu terbenam di antara dua tanduk setan. Dan
ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari.”
Dan dari Abu Sa’id Al Khudriy رضي الله عنه yang berkata: Aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«لا صلاة بعد الصبح حتى ترتفع الشمس ولا صلاة بعد العصر حتى تغيب الشمس».
“Tiada sholat setelah shubuh sampai matahari meninggi, dan tiada sholat setelah Ashr sampai matahari menghilang.” (HR. Al Bukhoriy ((586)/Darus Salam) dan Muslim ((827)/Maktabatur Rusyd).
Dan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما yang berkata:
(شهد عندي رجال مرضيون وأرضاهم عندي عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن الصلاة بعد الصبح حتى تشرق الشمس، وبعد العصر حتى تغرب).
“Telah
bersaksi di sisiku orang-orang yang diridhoi, dan yang paling saya
ridhoi dari mereka adalah Umar, bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم
melarang sholat setelah subuh sampai matahari terbit, dan setelah Ashr
sampai matahari terbenam.” (HR. Al Bukhoriy ((581)/Darus Salam) dan
Muslim ((826)/Maktabatur Rusyd).
Dan dari Abu Huroiroh رضي الله عنه yang berkata:
(نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صلاتين بعد الفجر حتى تطلع الشمس وبعد العصر حتى تغرب الشمس).
Rosululloh
صلى الله عليه وسلم melarang dari dua sholat: setelah fajar sampai
matahari terbit, dan setelah Ashr sampai matahari terbenam.” (HR. Al
Bukhoriy ((588)/Darus Salam) dan Muslim ((825)/Maktabatur Rusyd).
Dan dari Mu’awiyah رضي الله عنه yang berkata:
(إنكم لتصلون صلاة لقد صحبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فما رأيناه يصليها ولقد نهى عنهما) يعني: الركعتين بعد العصر.
“Sesungguhnya
kalian melakukan suatu sholat, sungguh kami menyertai Rosululloh صلى
الله عليه وسلم dan kami tidak melihat beliau melakukan sholat itu, dan
sungguh beliau itu melarang dari keduanya.” Yaitu: dua rekaat setelah
Ashr. (HR. Al Bukhoriy ((587)/Darus Salam).
Dan dari Abu Bashroh Al Ghifariy رضي الله عنه yang berkata:
صلى بنا رسول الله صلى الله عليه و سلم العصر بالمخمص فقال: «إن هذه الصلاة عرضت على من كان قبلكم فضيعوها فمن حافظ عليها كان له أجره مرتين ولا صلاة بعدها حتى يطلع الشاهد». والشاهد: النجم.
Pernah Rosululloh صلى الله عليه وسلم mengimami kami sholat Ashr di Mukhommash, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya
sholat ini telah disodorkan kepada umat sebelum kalian, lalu mereka
menyia-nyiakannya. Maka barangsiapa menjaganya, dia akan mendapatkan
pahalanya dua kali lipat. Dan tiada sholat setelahnya sampai terbitnya
syahid.” Syahid adalah: bintang. (HR. Muslim ((839)/Maktabatur Rusyd).
Dan dari Abu Salamah :
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «خير
يوم طلعت فيه الشمس يوم الجمعة فيه خلق آدم وفيه أدخل الجنة وفيه أهبط
منها وفيه ساعة لا يوافقها عبد مسلم فيسأل الله فيها شيئا إلا أعطاه إياه».
قال أبو هريرة: فلقيت عبد الله بن سلام فذكرت له هذا الحديث فقال: أنا
أعلم بتلك الساعة. فقلت: أخبرني بها ولا تضنن بها علي ؟ قال: هي بعد العصر
إلى أن تغرب الشمس. فقلت: كيف تكون بعد العصر وقد قال رسول الله صلى الله
عليه و سلم: «لا يوافقها عبد مسلم وهو يصلي» وتلك الساعة لا يصلى فيها ؟ فقال عبد الله بن سلام: أليس قد قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «من جلس مجلسا ينتظر الصلاة فهو في صلاة» ؟ قلت: بلى. قال: فهو ذاك.
dari Abu Huroiroh رضي الله yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Hari
terbaik yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at, di hari itu
Adam diciptakan, dan di situ Adam dimasukkan ke dalam Jannah, dan di
hari itu dia diturunkan dari Jannah. Dan di hari itu ada satu jam yang
tidaklah seorang hamba muslim menepatinya dan dia minta sesuatu pada
Alloh di saat itu kecuali pasti Alloh akan memberikannya padanya.”
Abu
Huroiroh berkata: Lalu aku berjumpa dengan Abdulloh bin Salam, lalu aku
menyebutkan padanya hadits itu. Maka dia berkata: “Aku mengetahui jam
tersebut.” Maka aku berkata: “Kabarilah aku dengannya, dan jangan pelit
terhadapku.” Maka dia menjawab: “Jam itu adalah setelah Ashr hingga
terbenamnya matahari.” Maka kukatakan: “Bagaimana Jam itu adalah setelah
Ashr sedangkan Rosululloh صلى الله عليه وسلم telah bersabda: “Tidaklah seorang hamba muslim menepatinya dalam keadaan dia sholat”
sementara tidak boleh sholat dilakukan di jam itu?” maka Abdulloh bin
Salam berkata: “Bukankah Rosululloh صلى الله عليه وسلم telah bersabda: “Barangsiapa duduk di suatu majelis sambil menunggu sholat, maka dia itu di dalam sholat?” Aku menjawab: “Memang.” Maka dia berkata: “Itulah dia.” (HR. At Tirmidziy ((491)/Darus Salam) dengan sanad shohih).
Apa yang dimaksud dengan sabda beliau: “Sampai matahari terbenam” atau “Sampai matahari menghilang”?
Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Sampai matahari menghilang”
yaitu: ujung lingkarannya yang tertinggi. Yaitu: sampai seluruh bagian
matahari menghilang.” (“Fathu Dzil Jalali Wal Ikrom”/1/hal. 435/Al
Maktabatul Islamiyyah).
Ini tadi tiga waktu yang sholat di situ terlarang. Dan berikut ini ada
dua waktu yang lain yang sholat di situ lebih keras larangannya, yaitu:
Keempat: ketika matahari terbit
Dari Ibnu Umar رضي الله عنهما yang berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«إذا طلع حاجب الشمس فأخروا الصلاة حتى ترتفع، وإذا غاب حاجب الشمس فأخروا الصلاة حتى تغيب».
“Jika
piringan matahari telah terbit, maka akhirkanlah sholat sampai matahari
meninggi. Dan jika piringan matahari telah hilang, maka akhirkanlah
sholat sampai matahari menghilang.” (HR. Al Bukhoriy ((583)/Darus Salam)).
Al Qurthubiy berkata: “Dan “Piringan matahari”
adalah: yang pertama kali muncul darinya ketika terbit. Dan dia ini
yang pertama kali menghilang dari matahari (ketika terbenam).” (“Al
Mufhim Lima Asykala Min Talkhishi Kitabi Muslim”/7/hal. 90).
Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Sabda beliau: “Piringan matahari”
yaitu: ujung lingkarannya. Al Jauhariy berkata: Piringan-piringan
matahari adalah tepi-tepinya.” (“Fathul Bari”/2/hal. 87/Daru Mishr).
Dan Ibnu Umar رضي الله عنهما berkata: “Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«لا يتحر أحدكم أن يصلي عند طلوع الشمس ولا عند غروبها».
“Janganlah
salah seorang dari kalian bersungguh-sungguh sengaja mencari sholat
ketika terbitnya matahari dan jangan pula ketika terbenamnya.” (HR. Muslim ((828)/Maktabatur Rusyd)).
Dan dari Bilal رضي الله عنه yang berkata:
(لم يكن ينهى عن الصلاة إلا عند طلوع الشمس فإنها تطلع بين قرني الشيطان).
“Tidaklah
sholat itu terlarang kecuali ketika matahari terbit, karena dia itu
terbit di antara dua tanduk setan.” (HR. Ahmad (23933) dan dishohihkan
oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih Mimma Laisa
Fish Shohihain” no. (857)/Darul Atsar).
Dan dari ‘Aisyah رضي الله عنها bahwasanya beliau berkata:
لم يدع رسول الله صلى الله عليه و سلم الركعتين بعد العصر. قال: فقالت عائشة: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «لا تتحروا طلوع الشمس ولا غروبها فتصلوا عند ذلك».
“Rosululloh
صلى الله عليه وسلم tidak meninggalkan dua rekaat setelah Ashr.” Aisyah
juga berkata: Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Janganlah
kalian bersungguh-sungguh sengaja mencari terbitnya matahari dan jangan
pula ketika terbenamnya lalu kalian sholat ketika saat itu.” (HR. Muslim ((833)/Maktabatur Rusyd)).
Dan dari Abdulloh bin Amr رضي الله عنهما : Bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«وقت
الظهر إذا زالت الشمس وكان ظل الرجل كطوله ما لم يحضر العصر. ووقت العصر
ما لم تصفر الشمس. ووقت صلاة المغرب ما لم يغب الشفق. ووقت صلاة العشاء إلى
نصف الليل الأوسط. ووقت صلاة الصبح من طلوع الفجر ما لم تطلع الشمس. فإذا
طلعت الشمس فأمسك عن الصلاة فإنها تطلع بين قرني شيطان».
“Waktu
Zhuhur adalah jika matahari telah tergelincir, dan bayang-bayang
seseorang seperti tinggi badannya selama Ashr belum hadir. Dan waktu
Ashar adalah selama matahari belum menguning. Dan waktu sholat Maghrib
adalah selama syafaq (warna merah atau kuning) belum menghilang. Dan
waktu sholat Isya adalah sampai setengah malam yang pertengahan. Dan
waktu sholat Shubuh adalah dari terbit fajar selama matahari belum
terbit. Jika matahari telah terbit, maka tahanlah dari sholat karena
matahari itu terbit di antara dua tanduk setan.” (HR. Muslim ((612)/Maktabatur Rusyd).
Sampai kapankah dilarangnya sholat ketika terbit matahari?
Tidak boleh mengerjakan sholat sunnah yang mutlak ketika matahari baru
benar-benar terbit, berdalilkan dengan hadits Samuroh رضي الله عنه :
«حتى تطلع الشمس»
“Sampai matahari terbit”
Bahkan
dia harus menanti sampai matahari meninggi, sebagaimana telah lewat
penyebutannya dalam beberapa hadits. Dan dari Abu Sa’id Al Khudriy رضي
الله عنه yang berkata: Aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم
bersabda:
«لا صلاة بعد الصبح حتى ترتفع الشمس ولا صلاة بعد العصر حتى تغيب الشمس».
“Tiada
sholat setelah shubuh sampai matahari meninggi, dan tiada sholat
setelah Ashr sampai matahari menghilang.” (HR. Al Bukhoriy ((586)/Darus Salam) dan Muslim ((827)/Maktabatur Rusyd).
Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Dan ketahuilah bahwasanya
dibencinya sholat ketika matahari terbit itu memanjang sampai dia
meninggi seukuran tombak. Inilah yang benar, dan inilah yang dipastikan
oleh sang penulis –Abu Ishaq- dalam “At Tanbih” dan mayoritas ulama.”
(sebagaimana dalam “Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab”/4/hal. 167).
Al Imam Ibnu Rojab رحمه الله berkata: “Dan larangan itu memanjang
sampai meningginya matahari, bercahaya terang dan warnanya bersih.”
(“Fathul Bari”/Ibnu Rojab/3/hal. 148/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).
Al Imam Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Dikumpulkan di antara dua
hadits: bahwasanya yang dimaksudkan dengan terbitnya matahari adalah
terbit yang khusus, yaitu: sampai terbit dan meninggi.” (“Fathul
Bari”/Ibnu Hajar/2/hal. 85/cet. Daru Mishr).
Al Imam Ibnu Utsaimin رحمه الله berkata: “Yang dimaksudkan adalah:
“Sampai dia terbit dengan sempurna, atau sampai piringan dia yang
pertama dan kedua itu terbit, akan tetapi bersamaan dengan itu akan
menjadi jelas pada pembahasan yang akan datang insya Alloh pada hadits
Uqbah, bahwasanya larangan itu memanjang sampai matahari meninggi
seukuran tombak.” (“Fathu Dzil Jalali Wal Ikrom Syarh Bulughil Marom”/Al
Imam Ibnu ‘Utsaimin/1/hal. 435/cet. Al Maktabatul Islamiyyah).
Kelima: ketika terbenamnya matahari
Dari Samuroh bin Jundub رضي الله عنه bahwasanya beliau menyampaikan
hadits dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang bersabda:
« لا تصلوا حتى تطلع الشمس ولا حين تسقط ؛ فإنها تطلع بين قرني شيطان».
“Janganlah
kalian sholat sampai matahari terbit dan jangan pula ketika matahari
jatuh (terbenam) karena dia itu terbit di antara dua tanduk setan.”
(HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam “Al Ahad Wal Matsani” (1185) dan dihasankan
oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shohih Mimma Laisa
Fish Shohihain” no. (858)).
Dan dari Ibnu Umar رضي الله عنهما yang berkata: “Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«إذا بدا حاجب الشمس فأخروا الصلاة حتى تبرز وإذا غاب حاجب الشمس فأخروا الصلاة حتى تغيب».
“Jika
telah nampak piringan matahari maka akhirkanlah sholat sampai matahari
itu muncul. Dan jika piringan matahari telah hilang, maka akhirkanlah
sholat sampai matahari itu menghilang.” (HR. Muslim ((829)/Maktabatur Rusyd)).
Hadits-hadits
yang banyak ini telah tetap dan tidak mansukh (terhapus) menunjukkan
bahwasanya sholat di waktu-waktu yang lima tersebut tidak diperbolehkan.
Al Imam Al Mawardiy رحمه الله berkata: “Telah tetap dari Rosululloh صلى
الله عليه وسلم bahwasanya beliau melarang sholat di lima waktu, yaitu:
dua waktu larangan di situ adalah karena amalan sholatnya, bukan karena
waktunya. Dan tiga waktu larangan dari sholat di situ adalah karena
waktunya dan bukan karena amalan sholatnya.
Adapun dua waktu yang sholat dilarang di situ karena amalan sholatnya
bukan karena waktunya maka itu adalah: setelah pengerjaan sholat Ashr,
dan setelah pengerjaan sholat Shubh. Yang demikian itu adalah karena
waktu Ashr jika telah masuk, maka sholat sunnah di situ boleh selama
orang tadi belum mengerjakan sholat Ashr. Larangannya adalah sholat
sunnah setelah (sholat) Ashr, apabila dia telah mengerjakan sholat Ashr
dilaranglah dia mengerjakan sholat sunnah setelah itu. –sampai pada
ucapan beliau:-
Adapun tiga waktu yang dilarang sholat di dalamnya karena waktunya,
yaitu: ketika matahari terbit sampai meninggi dan menyebar sinarnya, dan
jika tiba di tengah langit dan hendak tergelincir (ke barat) sampai
tergelincir, dan jika mendekati terbenam sampai dia terbenam.”
(“Al Hawil Kabir”/Al Mawardiy/2/hal. 271-272/Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).
Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Dan para ulama bersepakat
bahwasanya larangan beliau صلى الله عليه وسلم dari sholat ketika
terbitnya matahari dan ketika terbenamnya adalah shohih dan tidak
terhapus. Hanya saja mereka berselisih tentang takwilnya dan maknanya”
(“At Tamhid”/4/hal. 17).
Al Imam Ibnu Qudamah رحمه الله berkata: “Para ulama berselisih pendapat
tentang waktu-waktu yang terlarang untuk sholat di situ. Ahmad رحمه
الله berpendapat bahwasanya waktu tersebut mulai setelah fajar sampai
matahari meninggi seukuran tombak, dan setelah ashr sampai matahari
terbenam, dan ketika matahari tegak di pertengahan sampai tergelincir.
Para pengikut beliau menghitungnya ada lima waktu: sejak fajar sampai
matahari terbit adalah satu waktu. Sejak matahari terbit sampai meninggi
adalah satu waktu. Ketika matahri tegak di tengah adalah satu waktu.
Sejak ashr sampai matahari mulai terbenam adalah satu waktu. Dan sampai
sempurnanya dia terbenam adalah satu waktu.
Dan yang benar adalah bahwasanya waktu yang lima itu adalah sejak
ketika matahari mulai terbenam sampai terbenamnya dia, karena Uqbah bin
Amir berkata:
(ثلاث
ساعات كان رسول الله صلى الله عليه و سلم ينهانا أن نصلي فيهن أو أن نقبر
فيهن موتانا: حين تطلع الشمس بازغة حتى ترتفع، وحين يقوم قائم الظهيرة حتى
تميل الشمس، وحين تضيف الشمس للغروب حتى تغرب).
“Ada tiga jam yang Rosululloh صلى الله عليه وسلم
melarang kami sholat di situ atau menguburkan jenazah kami di situ:
ketika matahari terbit hingga meninggi, ketika di tengah hari sampai
matahari mencondong, dan ketika matahari mau terbenam sampai terbenam.” [HR. Muslim (831)/Maktabatur Rusyd].
Maka beliau menjadikan ini adalah tiga waktu. Dan telah tetap untuk
kita dua waktu yang lain, dengan hadits Umar dan Abu Sa’id. Maka jadilah
semuanya itu lima. Dan barangsiapa menjadikan waktu yang kelima adalah
waktu terbenam, adalah karena Nabi صلى الله عليه وسلم mengkhususkannya
dengan larangan dalam hadits Ibnu Umar dari Rosululloh صلى الله عليه
وسلم bahwasanya beliau bersabda:
«إذا بدا حاجب الشمس فأخروا الصلاة حتى تبرز وإذا غاب حاجب الشمس فأخروا الصلاة حتى تغيب»
“Jika
telah nampak piringan matahari maka akhirkanlah sholat sampai matahari
itu muncul. Dan jika piringan matahari telah hilang, maka akhirkanlah
sholat sampai matahari itu menghilang.” [HR. Muslim ((829)/Maktabatur Rusyd)].
Dan dalam hadits suatu hadits:
«ولا تتحروا بصلاتكم طلوع الشمس ولا غروبها»
“Dan janganlah kalian menyengaja mencari terbitnya matahari ataupun terbenamnya matahari untuk mengerjakan sholat kalian.”
Kesimpulannya
adalah bahwasanya waktu-waktu tersebut dilarang sholat di situ. Dan itu
adalah pendapat Asy Syafi’iy dan para pengikut ro’yu.”
(selesai dari “Al Mughniy”/2/hal. 307-308/cet. Darul Hadits).
Adapun Al Imam Ibnul Mundzir رحمه الله maka beliau menjadikan waktu
terlarang hanyalah tiga saja, yaitu: ketika matahari terbit, ketika
terbenam, dan ketika di tengah hari. (rujuk “Al Ausath”/ Ibnul
Mundzir/3/hal. 420).
Al Imam Ibnu Qudamah رحمه الله berkata: “Ibnul Mundzir berkata: Yang
terlarang itu hanyalah tiga waktu saja yang ada pada hadits Uqbah ,
dengan dalil pengkhususan larangannya itu dalam haditsnya, dan hadits
Ibnu Umar, dan sabda beliau:
«لا تصلوا بعد العصر إلا أن تصلوا والشمس مرتفعة».
“Janganlah kalian shalat setelah ashar kecuali shalat pada saat matahari masih tinggi.” ([5]) Diriwayatkan oleh Abu Dawud.
Dan Aisyah berkata:
(وَهِمَ عمر، إنما نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم أن يتحرى طلوع الشمس أو غروبها).
“Umar salah sangka. Rosululloh صلى الله عليه وسلم hanyalah melarang sengaja mencari terbitnya matahari atau terbenamnya.” ([6])
Sedangkan kami –yaitu Ibnu Qudamah- punya dalil: yang telah kami
sebutkan, yaitu hadits-hadits di awal bab, dan hadits-hadits tadi shohih
dan jelas. Dan pengkhususan (tiga waktu tadi) pada sebagian hadits itu
tidaklah bertentangan dengan dalil-dalil umum yang mencocokinya. ([7])
Hanya saja dia itu tadi menunjukkan diperkuatnya hukum pada waktu-waktu
yang dikhususkan tadi. Dan ucapan Aisyah yang menolak berita dari Umar
tadi tidak bisa kita terima, karena Umar menetapkan riwayat beliau dari
Nabi صلى الله عليه وسلم –sampai pada ucapan beliau:- maka bagaimana bisa
diterima bantahan Aisyah terhadap perkara yang dia sendiri mengakui
keshohihannya? Berita tadi juga diriwayatkan oleh Abu Sa’id, Umar, Ibnu
Anbasah, Abu Huroiroh, Ibnu Umar, Ash Shunabihiy, dan Ummu Salamah,
seperti apa yang diriwayatkan oleh Umar. Maka yang seperti ini tak boleh
ditinggalkan karena semata-mata pendapat yang berbeda-beda dan bertolak
belakang.”
(selesai penukilan dari “Al Mughniy”/2/hal. 308/cet. Darul Hadits).
Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Ucapan Aisyah: “Umar salah
sangka” yaitu: Umar ibnul Khoththob رضي الله عنه dalam riwayat beliau
tentang dilarangnya sholat setelah Ashr secara mutlak, karena yang
dilarang itu (menurut Aisyah) hanyalah menyengaja mencari waktu
terbenamnya matahari. Al Qodhi berkata: Hanyalah Aisyah berkata demikian
karena dirinya meriwayatkan sholat Nabi صلى الله عليه وسلم dua rekaat
setelah Ashr. Al Qodhi berkata: Dan apa yang diriwayatkan oleh Umar itu
juga diriwayatkan oleh Abu Sa’id, Abu Huroiroh, Dan Ibnu Abbas dalam
“Shohih Muslim” menyatakan bahwasanya lebih dari satu orang telah
mengabari beliau tentang itu. Aku katakan: untuk menggabungkan dua
riwayat: maka riwayat taharri (sengaja mencari waktu tadi) itu
dibawa kepada pengakhiran sholat wajib sampai ke waktu tadi. Dan riwayat
larangan yang mutlak itu dibawa kepada sholat yang tidak punya sebab.”
(“Al Minhaj”/An Nawawiy/6/hal. 119).
Apakah larangan itu khusus di luar Mekkah?
Apakah hadits-hadits larangan tadi hanya berlaku di luar Mekkah, sementara di Mekkah tidak terlarang sama sekali?
Al Imam Ibnu Qudamah رحمه الله berkata: “Dan tiada perbedaan antara
Mekkah dan yang lainnya dalam masalah larangan sholat sunnah di
waktu-waktu terlarang. Asy Syafi’iy berkata: “Di Makkah tidak terlarang,
berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
«لا تمنعوا أحدا طاف بهذا البيت وصلى في أي ساعة شاء من ليل أو نهار»
“Janganlah
kalian melarang seorangpun untuk thowaf di Baitulloh ini dan sholat
pada waktu kapanpun di malam hari ataupun siang hari.” ([8])
Dan dari Abu Dzarr yang berkata:
سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : «لا يصلين أحد بعد الصبح إلى طلوع الشمس ولا بعد العصر إلى أن تغرب الشمس إلا بمكة» يقول : قال ذلك ثلاثا
“Aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Janganlah
sekali-kali seseorang sholat setelah shubuh sampai matahari terbit dan
jangan pula setelah Ashr sampai matahari terbenam, kecuali di Makkah.” Beliau mengucapkan itu tiga kali.
Diriwayatkan oleh Ad Daruquthniy. ([9])
Sedangkan kami (Ibnu Qudamah) punya dalil: keumuman larangan, dan itu
adalah suatu makna yang sholat itu dilarang karena makna tersebut di
Makkah dan selain Makkah, seperti juga haidh. Dan hadits mereka itu
diinginkan dengannya dua rekaat thowaf, maka dikhususkan dengan dua
rekaat tadi. Dan hadits Abu Dzarr itu lemah, diriwayatkan oleh Abdulloh
ibnul Muammal, dan dia itu lemah. Ini diucapkan oleh Yahya bin Ma’in.”
(selesai penukilan dari “Al Mughniy”/2/hal. 315-316/cet. Darul Hadits).
Hadits Abu Dzarr diriwayatkan oleh Ad Daruquthniy di “Sunan” no. (136),
di dalam sanadnya ada Abdulloh ibnul Muammal Al Makhzumiy Al Makkiy,
dan dia itu lemah, dan kebanyakan hadits-haditsnya itu munkar. Dan
hadits ini termasuk di dalamnya. Rujuk: “Al Kamil” (Ibnu Adi/974) dan
“Mizanul I’tidal” (Adz Dzahabiy”/4637)).
Dan hadits ini punya illah (penyakit tersembunyi) yang lain. Al Imam Al Baihaqiy رحمه الله berkata: “Humaid Al A’roj laisa bil qowiy
(bukan rowi yang seberapa kuat), dan Mujahid tidak tetap bahwasanya dia
mendengar hadits dari Abu Dzarr.” (“As Sunanul Kubro”/Al
Baihaqiy/2/hal. 462/cet. Darul Ma’rifah).
Hadits ini diriwayatkan juga dari arah yang lain, diriwayatkan oleh Al
Baihaqiy dalam “Al Kubro” (2/hal. 462/cet. Darul Ma’rifah) dan di dalam
sanadnya ada Al Yasa’ bin Tholhah Al Qurosyiy, dan dia itu munkarul
hadits. Dan hadits ini termasuk yang diingkari terhadapnya. Rujuk: “Al
Kamil” (Ibnu Adi/2188) dan “Mizanul I’tidal” (Adz Dzahabiy”/9785)).
Al Baihaqiy رحمه الله berkata: “Al Yasa’ bin Tholhah dihukumi lemah
oleh mereka, dan hadits ini putus karena Mujahid tidak bertemu dengan
Abu Dzarr, wallohu a’lam.” (“Al Kubro”/2/hal. 462/cet. Darul Ma’rifah).
Hukum sholat sunnah di tengah hari pada hari Jum’at
Para ulama berselisih pendapat tentang hukum sholat sunnah di tengah
hari pada hari Jum’at. Al Imam Ibnu Qudamah رحمه الله berpendapat
tentang tidak bolehnya hal itu, berdasarkan keumuman dalil-dalil
larangan, dan dikarenakan hadits Abu Sa’id:
«أن النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن الصلاة نصف النهار إلا يوم الجمعة»
“Sesungguhnya Nabi صلى الله عليه وسلم melarang sholat di tengah hari kecuali pada hari Jum’at”([10])
hadits
ini lemah. Beliau رحمه الله berkata: “Dan hadits mereka itu lemah, di
dalam sanadnya ada Laits, dan dia itu lemah, dan hadits itu mursal
(terputus) karena Abul Kholil meriwayatkannya dari Abu Qotadah padahal
dia tidak mendengar dari beliau.”
Beliau juga berdalilkan dengan keumuman hadits Ash Shunabihiy([11]):
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : «إن
الشمس تطلع ومعها قرن الشيطان فإذا ارتفعت فارقها ثم إذا استوت قارنها
فإذا زالت فارقها فإذا دنت للغروب قارنها فإذا غربت فارقها».
“Bahwasanya Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya
matahari terbit dan disertai oleh tanduk setan. Maka jika matahari
telah meninggi, tanduk tadi berpisah darinya. Lalu jika matahari di
tengah langit, tanduk tadi menyertainya. Dan jika matahari tergelincir
maka tanduk tadi berpisah darinya. Dan jika telah mendekati terbenam,
tanduk tadi menyertainya. Jika telah tenggelam, tanduk tadi berpisah
darinya.”
(rujuk secara lengkap “Al Mughniy”/2/hal. 316-317/cet. Darul Hadits).
Yang benar adalah bahwasanya sholat sunnah di tengah hari pada hari Jum’at itu boleh,
karena amalan itu terkenal di kalangan para Shohabat رضي الله عنهم.
Bahkan Umar رضي الله عنه yang memukuli orang-orang dengan pelepah kurma
jika melihat mereka sholat di waktu terlarang, beliau tidak melarang
orang yang sholat sunnah di tengah hari Jum’at.
Al Imam Malik رحمه الله meriwayatkan: dari Ibnu Syihab:
عن ثعلبة بن أبي مالك القرظي أنه أخبره :أنهم كانوا في زمان عمر بن الخطاب يصلون يوم الجمعة حتى يخرج عمر، فإذا خرج عمر وجلس على المنبر وأذن المؤذنون. قال ثعلبة: جلسنا نتحدث فإذا سكت المؤذنون وقام عمر يخطب أنصتنا، فلم يتكلم منا أحد.
dari Tsa’labah bin Abi Malik Al Qurozhiy bahwasanya dia mengabarinya: bahwasanya mereka dulu di zaman Umar ibnul Khoththob biasa sholat pada hari Jum’at sampai Umar keluar (untuk khothbah Jum’at).
Jika Umar telah keluar dan duduk di atas mimbar dan para muadzdzin
mengumandangkan adzan kami duduk berbincang-bincang. Jika para muadzdzin
telah diam dan Umar berdiri untuk berkhuthbah, kamipun diam, dan tiada
seorangpun dari kami yang berbicara.
Ibnu Syihab berkata:
فخروج الإمام يقطع الصلاة، وكلامه يقطع الكلام.
“Maka keluarnya imam itu memutuskan sholat, dan bicara imam itu memutuskan pembicaraan.”
(“Al Muwaththo”/no. (233)/sanadnya shohih).
Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata: “Dan termasuk yang
memberikan keringanan untuk itu juga adalah: Al Hasan, Thowus dan Al
Auza’iy. Abu Yusuf, Asy Syafi’iy dan para pengikutnya berkata: “Tidak
mengapa sholat sunnah di tengah siang khusus pada hari Jum’at.” Dan ini
adalah riwayat dari Al Auza’iy dan penduduk Syam. Dan hujjah Asy
Syafi’iy dan orang yang berpendapat dengan pendapat beliau ini adalah:
apa yang diriwayatkan oleh Asy Syafi’iy dari Ibrohim bin Muhammad, dari
Ishaq bin Abdillah, dari Sa’id bin Abi Sa’id Al Maqburiy, dari Abu
Huroiroh:
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن الصلاة نصف النهار حتى تزول الشمس إلا يوم الجمعة.
“Bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم melarang sholat di tengah hari sampai matahari tergelincir, kecuali pada hari Jum’at.”
Dan mereka juga berargumentasi dengan hadits Malik: dari Ibnu Syihab:
dari Tsa’labah bin Ab Malik. Dan telah terdahulu penyebutannya. Dia
berkata: berita Tsa’labah dari hampir semua Shohabat Rosululloh صلى الله
عليه وسلم di Darul Hijroh (Madinah) bahwasanya mereka itu biasa sholat
di tengah siang pada hari Jum’at. Abu Umar (Ibnu Abdil Barr) berkata:
“Seakan-akan dia (Asy Syafi’iy) berkata: Larangan sholat saat matahari
tepat di tengah itu shohih, tapi dikhususkan darinya hari Jum’at,
dikarenakan apa yang diriwayatkan, tentang amalan yang semisal itu tidak
terjadi kecuali dengan tauqif (dalil dari syariat), dan dengan berita
yang telah tersebut juga. Dan sisa-sisa seluruh hari yang lain masih
mengikuti larangan yang ada.
Dan Ibrohim bin Muhammad yang Asy Syafi’iy meriwayatkan berita tadi darinya adalah: Ibnu Abi Yahya Al Madaniy, matrukul hadits.
Dan Ishaq yang datang setelah dia dalam sanad tadi adalah: Ibnu Abi
Farwah, lemah juga. Sepertinya berita tadi hanyalah kuat menurut beliau
(Asy Syafi’iy) dengan apa yang diriwayatkan dari para Shohabat di zaman
Umar bahwasanya mereka itu biasa sholat di tengah siang pada hari
Jum’at. Dengan Alloh sajalah taufiq.”
(selesai penukilan dari “At Tamhid”/4/hal. 19-20).
Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Dan masalah ini di dalamnya
ada perselisihan di kalangan para fuqoha رحمهم الله . di antara mereka
ada yang berkata: “Sesungguhnya hari Jum’at itu tiada di situ larangan”
yaitu: larangan ketika matahari di tengah langit. Akan tetapi mereka
tidak berdalilkan dengan hadits yang lemah ini, mereka itu berdalilkan
bahwasanya para Shohabat رضي الله عنهم jika masuk masuk masjid
bahwasanya mereka itu biasa sholat sampai imam hadir, tanpa ada yang
mengingkari. Dan ini menunjukkan bahwasanya hukum yang telah menetap di
kalangan mereka adalah: tiada larangan dari sholat pada hari Jum’at.
Dan di antara ulama ada yang berkata: “Sesungguhnya Jum’at itu seperti
yang lainnya.” Dan ini lebih dekat kepada kebenaran, sekalipun yang
pertama juga lebih dekat pada kebenaran, karena dulu para Shohabat biasa
mengerjakan itu. Dan jauh sekali kemungkinan bahwasanya mereka
mengerjakan itu tanpa mereka mengetahui adanya keringanan dari Rosul صلى
الله عليه وسلم ,…”
(lihat secara lengkap di “Fathu Dzil Jalal Wal Ikrom Syarh Bulughil Marom”/Ibnu Utsaimin/1/hal. 441/cet. Maktabatul Islamiyyah).
Apakah ada waktu-waktu lain yang tidak boleh sholat di situ?
Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Perlu diingat: sebagian ulama berkata
bahwasanya yang dimaksudkan dengan pembatasan larangan pada lima waktu
itu hanyalah dilihat dari segi waktu-waktu yang asli. Jika tidak
demikian, mereka telah menyebutkan bahwasanya: sholat sunnah dibenci
dilakukan ketika iqomatush sholat, dan waktu naiknya imam untuk khothbah
Jum’at, dan ketika sholat wajib berjama’ah bagi orang yang belum
mengerjakan sholat jama’ah tadi.” (“Fathul Bari”/2/hal. 91-92/cet. Daru
Mishr).
Bab Empat: Apakah Larangan Dari Sholat Pada Waktu-waktu Tersebut Itu Makruh Harom Ataukah Makruh Tanzih?
Lahiriyyah dalil-dalil larangan itu menunjukkan pada pengharoman. Al
Imam Zainuddin Al ‘Iroqiy رحمه الله berkata: “Para ulama berselisih
tentang larangan dari sholat pada waktu-waktu tersebut: apakah untuk
pengharoman ataukah untuk tanzih (tidak sampai harom)? Para sahabat kami
dalam masalah itu punya dua pendapat. Maka yang dishohihkan oleh An
Nawawiy dalam “Ar Roudhoh” dan “Syarul Muhadzdzab” dan yang lainnya:
bahwasanya larangan tadi adalah untuk pengharoman. Dan itu adalah
lahiriyyah larangan pada sabda beliau:
«لا تصلوا»
“Janganlah kalian sholat”
Dan peniadaan pada sabda beliau:
«لا صلاة»
“Tiada sholat”
Karena dia itu adalah berita yang bermakna larangan.
Dan Asy Syafi’iy رحمه الله telah menetapkan ini dalam “Ar Risalah”. Dan
An Nawawiy dalam kitab “At Tahqiq” telah membenarkan bahwasanya
larangan tadi adalah untuk tanzih (tidak sampai harom).
Dan apakah sholatnya sah jika dia mengerjakan itu ataukah sholatnya
batal? An Nawawiy dalam “Ar Roudhoh” mengikuti Ar Rofi’iy membenarkan
bahwasanya sholat tadi batal. Dan lahiriyyahnya memang sholat tadi
batal. Jika kita berkata bahwasanya sholat itu makruh tanzih, dan An
Nawawiy terang-terangan mengucapkan itu dalam “Syarhul Wasith” mengikuti
Ibnush Sholah. Dan syaikh kami Al Isnawiy dalam “Al Muhimmat”
menganggap itu rumit. Beliau berkata: “Bagaimana diperbolehkan maju
kepada perkara yang tidak sah? Itu adalah main-main?” dan tidak ada
kerumitan di dalamnya, karena larangan yang bersifat tanzih jika kembali
kepada dzat sholat itu sendiri maka dia itu menentang keshohihan
seperti larangan yang bersifat harom, sebagaimana itu telah ditetapkan
di Ushul. Dan kesimpulannya adalah: bahwasanya makruh itu tidak masuk ke
dalam kemutlakan perintah. Jika tidak demikian, hal itu mengharuskan
bahwasanya sesuatu itu dituntut ada tapi juga sekaligus dilarang, dan
itu tidak sah kecuali jika perkara itu adalah dituntut keberadaannya.”
(“Thorhut Tatsrib”/2/hal. 272).
Al Imam ash Shon’aniy رحمه الله berkata: “Dan ini adalah peniadaan
sholat yang bersifat syar’iy, dan dia itu masuk dalam makna larangan.
Dan asal larangan adalah pengharoman. Maka itu menunjukkan
tentang diharomkannya sholat sunnah di dua waktu ini secara mutlak.”
(“Subulus Salam”/1/hal. 178/cet. Darul Ma’rifah).
Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata tentang makna “Tiada sholat”:
“Ini ada tiga kemungkinan. Dan kaidahnya adalah: bahwasanya peniadaan
tersebut adalah peniadaan wujud. Jika tidak mungkin, maka dia itu adalah
peniadaan keshohihan. Dan peniadaan keshohihan adalah peniadaan wujud
keshohihan amalan tadi secara syariah, atau meniadakan keberadaan
perkara tadi secara syariah. Jika itu juga tidak sesuai karena adanya
dalil yang menunjukkan bahwasanya perkara yang ditiadakan itu memang
shohih, maka wajib untuk peniadaan tadi dibawa kepada peniadaan
kesempurnaan.
Maka di sini: apakah yang dimaukan itu adalah bahwasanya sholat tadi
ditiadakan keberadaannya, dengan makna: tidak mungkin terjadi? Jawabnya:
tidak demikian, karena bisa jadi orang tadi sholat di waktu terlarang
tersebut.
Jika demikian, apakah dia itu meniadakan keshohihan ataukah meniadakan
kesempurnaan? Kita katakan: tingkatan kedua setelah peniadaan wujud
adalah: peniadaan keshohihan, dan itu harus. Maka kita katakan: tiada sholat, yaitu: sholatnya tidak sah,
dan bukan sekedar meniadakan kesempurnaan. Jika demikian, diambillah
faidah dari hadits ini: bahwasanya sholat di kedua waktu ini tidak sah,
baik itu sholat wajib ataukah sholat sunnah, sholat muaddah (yang harus ditunaikan di waktunya) ataukah sholat maqdhiyyah
(yang berupa semacam hutang yang harus dibayar). Akan tetapi bukan ini
yang dimaukah. Yaitu: bukan dimaukan secara umum. As sunnah telah
menunjukkan diperkecualikannya beberapa sholat dari larangan tadi, …
dst.”
(selesai dari “Fathu Dzil Jalali Wal Ikrom”/Al Imam Ibnu ‘Utsaimin/1/hal. 436/cet. Al Maktabatul Islamiyyah).
Adapun Ibnu Hajar رحمه الله maka beliau berkata: “Sebagian dari mereka
memisahkan antara hikmah larangan sholat setelah sholat shubuh dan Ashr
dengan dengan larangan sholat ketika matahari terbit dan ketika
terbenam. Dia berkata: pada kedua keadaan yang pertama itu hukumnya
makruh. Dan pada dua keadaan yang terakhir itu hukumnya harom. Dan
termasuk orang yang berpendapat demikian adalah Muhammad bin Sirin,
Muhammad bin Jarir Ath Thobariy. Dan dia berargumentasi dengan apa yang
telah tetap dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau sholat
setelah Ashr. Maka ini menunjukkan bahwasanya hal itu tidak harom. Dan
sepertinya dia membawa perbuatan beliau tadi kepada penjelasan tentang
bolehnya itu. Dan akan datang apa yang ada di dalamnya dalam bab yang
setelahnya. Dan diriwayatkan dari Ibnu Umar tentang haromnya sholat
setelah subuh sampai terbit matahari, dan pembolehannya setelah ashr
sampai menguningnya matahari. Dan inilah pendapat Ibnu Hazm, dan
berargumentasi dengan hadits Ali: bahwasanya beliau صلى الله عليه وسلم
melarang sholat setelah ashr kecuali dalam keadaan matahari masih
tinggi. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad shohih dan kuat. Dan
yang terkenal adalah: semua itu makruh. Dikatakan: itu makruh tahrim,
dan ada yang mengatakan: makruh tanzih. Wallohu a’lam.” (“Fathul
Bari”/2/hal. 91/cet. Dar Mishr).
Pembahasan hadits Ali رضي الله عنه
Adapun hadits Ali رضي الله عنه :
« أن النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن الصلاة بعد العصر إلا والشمس مرتفعة ».
“Bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم melarang shalat setelah ashar kecuali shalat pada saat matahari masih tinggi.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1274/cet. Maktabatul Ma’arif) dari jalur
Syu’bah dari Manshur dari Hilal bin Yisaf dari Wahb ibnul Ajda’ dari
Ali.
Dan diriwayatkan oleh Ahmad (610), An Nasaiy dalam “Al Kubro” (574/cet.
Darus Salam), Ibnu Khuzaimah dalam “Shohih” (1284) dan Ibnu Hibban
dalam “Shohih” (1562) dari jalur Jarir dari Manshur dengan sanad tadi.
Dan diriwayatkan oleh Ahmad (1074), Ibnu Khuzaimah dalam “Shohih”
(1285) dan Ibnu Hibban dalam “Shohih” (1562) dan Al Baihaqiy dalam “Al
Kubro” (2/459/cet. Darul Ma’rifah) dari Sufyan dan Syu’bah dari Manshur
dengan sanad tadi.
Para perowinya tsiqoh semua kecuali Wahb ibnul Ajda’, tidak ada yang
mentsiqohkan dia ulama yang teranggap. Dia disebutkan oleh Ibnu Hibban
dalam “Ats Tsiqot” (5868), dan berkata Al ‘Ijliy: Wahb ibnul Ajda’
Kufiy, tabi’iy, tsiqoh. (“Ma’rifatuts Tsiqot”/2/hal. 344).
Al ‘Ijliy dan Ibnu Hibban رحمهما الله punya sikap bermudah-mudah dalam
mentsiqohkan, sebagaimana telah diketahui bersama.
Al Imam Al Mu’allimiy رحمه الله berkata tentang Abu Sinan Isa bin Sinan
Al Qosmaliy: “Dan tidak bermanfaat bagi dia penyebutan Ibnu Hibban
dalam “Ats Tsiqot” karena Ibnu Hibban telah diketahui sikap
bermudah-mudah dia. Begitu pula tak bermanfaat untuknya ucapan Al
‘Ijliy: La ba’sa bihi. Karena sungguh Al ‘Ijliy itu dekat dengan
Ibnu Hibban atau lebih keras. Yang demukian itu diketahui dengan
penelusuran kitab-kitab.” (“Al Anwarul Kasyifah”/hal. 117).
Al Imam Al Albaniy رحمه الله berkata tentang Abdurrohman bin Maisaroh
Al Hadhromiy: “… tidak ada yang mentsiqohkan dia selain Al Hakim, dan
dia itu bermudah-mudah dalam mentsiqohkan, seperti Ibnu Hibban dan Al
‘Ijliy, dan dia juga telah mentsiqohkannya (835), maka diriku tidak
merasa tenang kepada kesendirian mereka dalam mentsiqohkan.”
(“Silsilatul Ahaditsish Shohihah”/9/hal. 81/di bawah no. 2817).
Al Imam Muqbil bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله ditanya tentang itu:
Soal ke 33: “Mengenai pentsiqohan Al ‘Ijliy, Asy Syaikh Al Albaniy حفظه
الله تعالى menyebutkan bahwasanya Al ‘Ijliy dan Al Hakim itu
bermudah-mudah dalam mentsiqohkan. Tapi bersamaan dengan itu saya dapati
Al Hafizh Ibnu Hajar jika di dalam biografi seseorang itu tidak ada
kecuali ucapan Al ‘Ijliy “Kufiy tsiqoh” atau “Madaniy, tabi’iy tsiqoh”
beliau berkata dalam “At Taqrib”: “Tsiqoh. Maka di manakah sisi
bermudah-mudahnya Al ‘Ijliy?”
Beliau menjawab: “Telah diketahui dengan penelusuran tentang
kesendirian Al ‘Ijliy –bersama Ibnu Hibban- dalam mentsiqohkan sebagian
rowi yang tidak ditsiqohkan oleh selain keduanya. Maka ini diketahui
dengan penelusuran. Jika tidak demikian, aku tidak mengetahui seorangpun
dari huffazh yang menetapkan ini. Yang tidak ditsiqohkan kecuali oleh
Al ‘Ijliy, yang ditsiqohkan oleh salah satunya atau dua-duanya,
terkadang tidak sampai ke derajat shoduq, dan pantas untuk syawahid dan
mutaba’ah. Sekalipun Al ‘Ijliy lebih tinggi dalam masalah ini, tapi
keduanya itu berdekatan. Dan “Taqrib” itu butuh penelitian ulang.
Terkadang beliau (Ibnu Hajar) berkata di situ: “Maqbul” (bisa untuk
pendukung, bukan untuk hujjah) dan engkau dapati Ibnu Ma’in telah
mentsiqohkannya. Dan sebaliknya juga, beliau (Ibnu Hajar) berkata:
“Tsiqoh” sementara engkau tidak dapati kecuali Al ‘Ijliy atau Ibnu
Hibban. Asy Syaikh Muhammad Al Amin Al Mishriy رحمه الله تعالى telah
memberi kami sepuluh-sepuluh rowi, tiap murid diberi sepuluh nama rowi
yang disebutkan tentang dirinya itu “Maqbul”. Maka yang aku dapati
adalah bahwasanya “At Taqrib” itu butuh diteliti lagi, dan kita tidak
merujuk ke “At Taqrib” kecuali jika kita dapati bahwasanya para ulama
mutaqoddimin punya ungkapan-ungkapan yang berbeda-beda yang kita tak
sanggup menggabungkan ungkapan-ungkapan mereka tadi, maka kita merujuk
ke “At Taqrib” dan mengambil ungkapan dari pengarang “At Taqrib.”
(selesai penukilan dari “Al Muqtaroh”/Al Imam Al Wadi’iy/hal. 46-47/Darul Atsar).
Jika demikian, maka: kondisi
Wahb ibnul Ajda’ itu tidak sanggup untuk memikul kesendirian dengan
hadits semacam ini yang menyelisihi hadits-hadits mutawatir yang dibawa
oleh para imam dan tsiqot, sehingga dia tidak kuat untuk haditsnya tadi
dihasankan.
Al Imam Al Baihaqiy رحمه الله telah menempuh metode tarjih, dan beliau
merojihkan hadits-hadits larangan dan mengalahkan hadits pembolehkan
tadi.
Al Imam Al Baihaqiy رحمه الله berkata: “Dan ini satu hadits saja,
sementara larangan yang telah lewat yang memanjang sampai terbenamnya
matahari adalah hadits dari sejumlah rowi, maka hadits sejumlah rowi
tersebut lebih pantas untuk terjaga.” (“As Sunanul Kubro”/Al
Baihaqiy/2/hal. 459/cet. Darul Ma’rifah).
Beliau رحمه الله juga berkata: “Wahb ibnul Ajda’ tidak dipakai sebagai
hujjah oleh dua imam pemilik “Shohih”, maka tidak boleh diterima darinya
riwayat yang menyelisihi para huffazh atsbat. Maka bagaimana sebentara
mereka itu sekian banyak sementara dia itu satu orang saja?”
(“Ma’rifatus Sunan Wal Atsar”/Al Baihaqiy/4/hal. 169).
Dan Al Munawiy رحمه الله sekalipun menshohihkan sanad hadits Ali
–barangkali beliau bersandarkan pada penshohihan Ibnu Hajar atau
pentsiqohan Al ‘Ijliy dan Ibnu Hibban- beliau berpandangan bahwasanya
riwayat Wahb ibnul Ajda’ tidak bisa menandingi hadits-hadits para imam
dan tsiqot, maka beliau mendahulukan riwayat mereka terhadap riwayat
Wahb.
Pada syarh Abu Sa’id Al Khudriy رضي الله عنه yang berkata: Aku mendengar Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«لا صلاة بعد الصبح حتى ترتفع الشمس ولا صلاة بعد العصر حتى تغيب الشمس».
“Tiada sholat setelah shubuh sampai matahari meninggi, dan tiada sholat setelah Ashr sampai matahari menghilang.”
Al
Munawiy berkata: “Dan hadits ini jelas sekali atau seperti jelas sekali
dalam keumuman dibencinya mengerjakan sholat pada waktu ashr dampai
maghrib. Dan ini adalah ucapan mayoritas ulama. Dan timbul kerumitan
dengan apa yang ada di dalam Al Bukhoriy dari Mu’awiyah dan dalam Abu
Dawud dari Ali dengan sanad shohih:
«لا تصلوا بعد العصر إلا أن تصلوا والشمس مرتفعة»
“Janganlah kalian shalat setelah ashar kecuali shalat pada saat matahari masih tinggi.”
Dan
dijawab bahwasanya hadits yang pertama itu lebih shohih, dan bahkan
mutawatir sebagaimana akan datang penyebutannya dan telah lewat juga.”
(“Faidhul Qodir”/di bawah no. (9893)).
Kesimpulannya: hadits Ali رضي الله عنه yang melalui jalur Wahb ibnul Ajda’ itu syadz (menyendiri), lemah.
Dan hadits Ali رضي الله عنه itu memiliki jalur yang lain:
Al Imam Ahmad رحمه الله berkata: haddatsanahu Ishaq bin Yusuf:
akhbarona Sufyan: ‘an Abi Ishaq: ‘an ‘Ashim: ‘an Ali رضي الله عنه :
عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال : «لا تصلوا بعد العصر إلا أن تصلوا والشمس مرتفعة»
“Dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau bersabda: “Janganlah kalian shalat setelah ashar kecuali kalian shalat pada saat matahari masih tinggi.”
Sufyan berkata: Saya tidak tahu apakah itu di Makkah atau tempat lainnya.
(HR. Ahmad (1076)).
Sejumlah murid Sufyan Ats Tsauriy telah menyelisihi Ishaq bin Yusuf Al Azroq. Di antara mereka adalah:
- Waqi’ ibnul Jarroh (HR. Ahmad (1012), Ibnu Khuzaimah dalam “Shohih” (1196) dan Abu Ya’la (617),
- Ibnu Mahdi, yaitu Abdurrohman (HR. Ahmad (1012)),
- Abu Kholid, yaitu Sulaiman bin Hayyan (HR. Ibnu Khuzaimah (1196)),
- Abdurrozzaq (dalam “Mushonnaf” (4823)),
- Muhammad ibnul Qosim (HR. Abu Nu’aim dalam “Hilyatul Auliya”/7/hal. 246),
-
Muhammad bin Katsir (HR. Abu Dawud (1275/Maktabatul Ma’arif)), tapi
Muhammad bin Katsir ini munkarul hadits, tidak teranggap,
- Al Husain bin Hafsh (HR. Al Baihaqiy dalam “As Sunanul Kubro”/2/hal. 459/Darul Ma’rifah),
- Abu Nu’aim, yaitu Al Fadhl bin Dukain (HR. Ath Thohawiy dalam “Syarhu Ma’anil Atsar” no. (1677)),
- Abu Amir, yaitu Abdul Malik bin Amr Al ‘Aqodiy (HR. Ath Thohawiy dalam “Syarhu Ma’anil Atsar” no. (1677)).
Mereka semua meriwayatkan dari Sufyan Ats Tsauriy dari Abu Ishaq dari Ashim bin Dhomroh dari Ali رضي الله عنه dengan lafazh:
كان النبي صلى الله عليه و سلم يصلي على إثر كل صلاة مكتوبة ركعتين إلا الفجر والعصر .
“Dulu Nabi صلى الله عليه وسلم biasa sholat dua rekaat setelah sholat wajib, kecuali Fajar dan Ashr.”
Oleh karena itulah Ibnu Khuzaimah dalam “Shohih” beliau no. (1286) setelah menyebutkan riwayat Ishaq bin Yusuf Al Azroq: “Janganlah kalian shalat setelah ashar kecuali kalian shalat pada saat matahari masih tinggi.
Beliau berkata: “Ini adalah hadits ghorib (asing).”
Dan Ad Daruquthniy رحمه الله berkata: “Dan Ishaq Al Azroq meriwayatkan
hadits ini dari Ats Tsauriy dengan sanad yang lain dari Abu Ishaq dari
‘Ashim dari Dhomroh dari Ali, dan dia tidak ada yang mendukung. Yang shohih adalah hadits Manshur dari Hilal bin Yisaf –sampai pada ucapan beliau:- Ishaq Al Azroq menyendiri dengan riwayat tadi dari Ats Tsauriy.” (“Al ‘Ilal”/Ad Daruquthniy/2/hal. 94/cet. Ar Royyan).
Kesimpulannya: Ishaq bin Yusuf Al Azroq telah keliru dan menyendiri dari jamaah tsiqot.
Bahkan riwayat jama’ah yang meriwayatkan dari Sufyan Ats Tsauriy dari
Abu Ishaq dari Ashim bin Dhomroh dari Ali رضي الله عنه dengan lafazh:
كان النبي صلى الله عليه و سلم يصلي على إثر كل صلاة مكتوبة ركعتين إلا الفجر والعصر .
“Dulu Nabi صلى الله عليه وسلم biasa sholat dua rekaat setelah sholat wajib, kecuali Fajar dan Ashr”
memperkuat
pendapat yang melarang sholat sunnah setelah sholat Ashr, karena hadits
tadi shohih. Dan Ad Daruquthniy رحمه الله berkata: “Dan riwayat yang terjaga adalah hadits Ashim dari Ali.” (“Al ‘Ilal”/Ad Daruquthniy/2/hal. 40/cet. Ar Royyan).
Dan ada hadits yang ketiga milik Ali رضي الله عنه :
Diriwayatkan oleh Asy Syafi’iy (dalam “Al Umm”/7/hal. 175-176/cet.
Darul Fikr), dan Al Baihaqiy (dalam “As Sunanul Kubro”/2/hal. 459/cet.
Darul Ma’rifah) dari Syu’bah dari Abu Ishaq dari Ashim bin Dhomroh yang
berkata:
كنا مع علي رضى الله عنه في سفر فصلى بنا العصر ركعتين ثم دخل فسطاطه وأنا انظر فصلى ركعتين.
“Kami
pernah bersama Ali رضي الله عنه dalam safar, lalu beliau mengimami kami
sholat Ashr dua rekaat, lalu beliau masuk ke dalam kemahnya, dan aku
melihat, lalu beliau sholat dua rekaat.”
Sanadnya shohih.
Hadits ini tidak jelas menyebutkan sholat sunnah mutlak setelah sholat
Ashr, karena bisa jadi Ali رضي الله عنه sholat karena salah satu sebab.
Maka kita membawa atsar ini kepada apa yang telah dikenal oleh syariat,
yaitu bolehnya sholat yang punya sebab, di waktu terlarang. Dan membawa
kepada kemungkinan ini lebih baik, terutama karena telah shohih dari Ali
رضي الله عنه bahwa beliau berkata:
كان النبي صلى الله عليه و سلم يصلي على إثر كل صلاة مكتوبة ركعتين إلا الفجر والعصر .
“Dulu Nabi صلى الله عليه وسلم biasa sholat dua rekaat setelah sholat wajib, kecuali Fajar dan Ashr”
Maka sunnah Rosululloh صلى الله عليه وسلم yang telah menetap dengan
riwayat-riwayat yang mutawatiroh adalah: larangan sholat di waktu
terlarang, dan bolehnya melaksanakan sholat yang punya sebab pada waktu
tersebut.
Dan kuatnya ittiba’ Ali رضي الله عنه terhadap sunnah itu telah dikenal, yang mana beliau berkata:
ما كنت لأدع سنة النبي صلى الله عليه وسلم لقول أحد. (أخرجه البخاري (1563/دار السلام)).
“Aku tidak akan meninggalkan sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم karena ucapan siapapun.” (HR. Al Bukhoriy (1563/Darus Salam)).
Maka lebih utama membawa perbuatan Ali رضي الله عنه tadi kepada sholat yang punya sebab.
Al Imam Asy Syafi’iy رحمه الله setelah menyebutkan hadits-hadits Ali,
beliau berkata: “Dan hadits-hadits ini satu sama lain saling berselisih.
Jika Ali meriwayatkan dari Rosululloh صلى الله عليه وسلم bahwasanya
beliau tidak sholat setelah Ashr ataupun Shubuh, maka sholat Ali yang
tadi itu tidak menyerupai bahwasanya beliau sholat dua rekaat setelah
Ashr, dalam keadaan beliau meriwayatkan bahwasanya Nabi صلى الله عليه
وسلم tidak mengerjakan dua rekaat itu.” (“Al Umm”/7/hal. 176/cet. Darul
Fikr).
Dan Al Imam Al Baihaqiy رحمه الله setelah menyebutkan hadits-hadits Ali
dan ucapan Asy Syafi’iy, beliau berkata: “Maka yang wajib bagi kita
adalah mengikuti apa yang tidak ada perselisihan di situ. Kemudian
larangan tadi khusus untuk sholat-sholat yang tidak punya sebab, dan
jadilah sholat yang punya sebab itu diperkecualikan dari larangan,
berdasarkan riwayat Ummu Salamah dan yang lainnya. Wallohu a’lam. (“As
Sunanul Kubro”/2/hal. 459/cet. Darul Ma’rifah).
Seandainya hadits Ali رضي الله عنه yang melalui jalur Wahb ibnul Ajda’
dianggap shohih, maka lahiriyyah hadits tersebut menunjukkan bolehnya
sholat sunnah setelah sholat Ashr selama matahari masih tinggi. Dan
telah lewat sebagian dalil shohih yang menunjukkan terlarangnya sholat
sunnah setelah sholat Ashr sampai maghrib secara mutlak. Maka larangannya tadi dibawa kepada kemakruhan, bukan kepada pembolehan.
Kemudian kita harus ingat bahwasanya larangan dari sholat setelah
sholat Ashr itu adalah untuk menutup sarana yang menyampaikan kepada
dikerjakannya sholat ketika matahari terbenam yang di dalamnya ada
penyerupaan kepada musyrikin. Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda
dalam hadits ‘Amr bin ‘Abasah As Sulamiy رضي الله عنه:
«حتى تصلي العصر ثم أقصر عن الصلاة حتى تغرب الشمس فإنها تغرب بين قرني شيطان وحينئذ يسجد لها الكفار».
“Sampai
engkau sholat Ashr, kemudian hentikanlah sholat sampai terbenam
matahari, karena matahari itu terbenam di antara dua tanduk setan. Dan
ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari.”
As Sindiy رحمه الله berkata: “Ini menunjukkan bahwasanya larangan itu
hanyalah dari sholat ketika terbenamnya matahari, bukan larangan dari
sholat setelah Ashr, dan telah datang larangan setelah Ashr secara
mutlak, dan hadits ini rowi-rowinya tsiqot seperti hadits-hadits yang
melarang secara mutlak. Dan telah datang hadits-hadits yang lain yang
mencocoki hadits ini yang menunjukkan pembatasan juga. Yang yang
benar adalah: sesungguhnya larangan dari sholat setelah Ashr adalah
mutlak agar tidak menjadi sarana untuk dilakukannya sholat di waktu
terbenam. Dan kepada takwil inilah sebagian riwayat dari Umar dan yang
lainnya menunjukkan. Wallohu a’lam.” (dinukilkan oleh Al Arnauth dalam “Tahqiq Musnad Ahmad bin Hanbal”/1/hal. 80).
Dan setiap kali sholat itu jauh dari saat terbenamnya matahari,
kemakruhannyapun semakin lemah, karena lemahnya gambaran kesengajaan
untuk mencari saat terbenamnya matahari. Dari Ibnu Umar رضي الله عنهما
yang berkata: “Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:
«لا يتحر أحدكم أن يصلي عند طلوع الشمس ولا عند غروبها».
“Janganlah
salah seorang dari kalian bersungguh-sungguh sengaja mencari sholat
ketika terbitnya matahari dan jangan pula ketika terbenamnya.” (HR. Muslim ((828)/Maktabatur Rusyd)).
Kemudian dalil larangan ini telah dikhususkan dengan dalil-dalil yang
banyak yang menunjukkan bahwasanya sholat yang punya sebab itu boleh
ditegakkan di waktu tersebut, dalam rangka menggabungkan dalil-dalil. Al
Imam Al Baihaqiy رحمه الله berkata: “Maka yang wajib bagi kita adalah
mengikuti apa yang tidak ada perselisihan di situ. Kemudian larangan
tadi khusus untuk sholat-sholat yang tidak punya sebab, dan jadilah
sholat yang punya sebab itu diperkecualikan dari larangan, berdasarkan
riwayat Ummu Salamah dan yang lainnya. Wallohu a’lam. (“As Sunanul
Kubro”/2/hal. 459/cet. Darul Ma’rifah).
Badruddin Al ‘Ainiy رحمه الله berkata dalam syarh hadits Ali رضي الله
عنه : “Sebagian dari mereka berdalilkan dengan hadits ini bahwasanya dua
rekaat zhuhur jika terluputkan, boleh dikerjakan setelah ashr jika
matahari masih tinggi, dan begitu pula seluruh sholat sunnah yang punya
sebab. Dan hadits yang shohih –yaitu sabda Nabi صلى الله عليه وسلم : “Tiada sholat setelah shubuh sampai matahari meninggi, dan tiada sholat setelah Ashr sampai matahari menghilang”
– menolak ini dan yang semisalnya. Dan sebagian dari mereka membawa
bahwasanya larangan dari sholat wajib seperti sholat yang luput dan
semisalnya itu tidak makruh dikerjakan setelah Ashr secara ijma’, akan
tetapi selama matahari masih tinggi. Maka jika matahari telah menguning
atau mendekati terbenam, yang demikian itu dimakruhkan juga.” (“Syarh
Abi Dawud”/Al ‘Ainiy/5/hal. 169-170).
Maka kami –dengan taufiq hanya dari Alloh- berkata: Sesungguhnya
pelaksanaan sholat yang punya sebab -setelah sholat ashr- itu boleh,
sampai bahkan jika dikerjakan ketika matahari terbenam, karena adanya
sebab atau kebutuhan. Apakah dia terkena larangan taharri
(menyengaja mencari) waktu tadi sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar رضي
الله عنهما? Jawabnya: tidak terkena larangan tadi, karena orang yang
mengerjakan sholat yang punya sebab tadi pada dua waktu tersebut dia itu tidak memaksudkan dua waktu tadi. Hanya saja dia mengerjakan sholat tadi karena suatu sebab atau kebutuhan.
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Taharri
itu adalah menyengaja dan memaksudkan. Dan ini hanyalah terjadi pada
sholat sunnah yang mutlak. Adapun sholat yang punya sebab, maka
pelakunya tidak menyengaja bermaksud mencari waktu terlarang. Dia itu
hanyalah mengerjakan sholat tadi dalam rangka suatu sebab, dan sebab
tadilah yang memaksanya untuk mengerjakan sholat tadi. Dan lafazh yang
terbatas dan menjelaskan ini (taharri) menafsirkan seluruh lafazh dan
menjelaskan bahwasanya laangan tadi hanyalah larangan untuk taharri.
Andaikata larangan tadi mencakup kedua jenis (yang mutlak dan yang punya
sebab), niscaya pengkhususan penyebutan lafazh tadi (taharri) tak punya
faidah, dan niscaya hukumnya digantungkan kepada suatu lafazh yang tak
punya pengaruh.” (“Majmu’ul Fatawa”/23/hal. 211/Darul Wafa).
Adapun sholat mutlak –yaitu: yang tak punya sebab- seusai sholat ashr
atau seusai sholat subuh, maka hukumnya harom, dan ketika matahari
terbenam dan terbitnya, maka keharomannya lebih keras.
Adapun Nabi صلى الله عليه وسلم –jika shohih bahwasanya beliau
terus-menerus sholat sunnah setelah sholat ashr di rumah Aisyah- maka
memang boleh bagi beliau sholat sunnah setelah sholat ashr karena beliau
itu jika mengerjakan suatu amalan, beliau itu menetapkannya. Maka
dengan ini terkumpullah seluruh dalil, karena dalil-dalil itu saling
menjelaskan.
Adapun Ath Thohawiy رحمه الله menempuh metode naskh
(penghapusan), beliau menjadikan hadits yang membolehkan sholat sunnah
seusai sholat ashr itu dihapus dengan hadits-hadits larangan. Tapi
langkah ini tidak sah kecuali jika diketahui tarikhnya (mana yang
disyariatkan lebih dulu dan mana yang belakangan). Maka kita menjawab
ucapan Ath Thohawiy رحمه الله dengan meniru bentuk ucapan Al Hafizh Ibnu
Hajar رحمه الله : “Dan sebagian dari mereka menyatakan bahwasanya
hadits-hadits larangan itu menghapus hadits ini. Dia ini adalah dakwaan
yang butuh kepada dalil, karena tidak boleh menempuh penghapusan dengan
sekedar berdasarkan kemungkinan, sementara penggabungan dua hadits masih
mungkin, dengan cara membawa hadits-hadits larangan kepada sholat
sunnah yang tidak punya sebab. Dan tiada keraguan bahwasanya metode
pengkhususan itu lebih utama daripada dakwaan penghapusan.” (“Fathul
Bari”/2/hal. 56).
Dan Al Imam Muhammad bin Sirin رحمه الله menempuh metode penggabungan.
Beliau berkata: “Sholat itu dibenci pada tiga waktu, dan diharomkan pada
dua waktu. Dibenci setelah ashr, diharomkan dua waktu ketika tanduk
setan terbit sampai sempurna terbitnya matahari, dan keika menguning
sampai sempurna terbenamnya, karena dia itu hanyalah terbenam di tanduk
setan dan terbit di tanduk setan.” (Diriwayatkan Abdurrozzaq dalam “Al
Mushonnaf” (3956) dengan sanad shohih).
Ditulis Oleh Al Faqir Ilalloh:
Abu Fairuz Abdurohman bin Soekojo
Al Jawiy Al Indonesiy
-semoga Alloh memaafkannya-
Judul Asli:
“At Taudhihatul ‘Ilmiyyah ‘Ala Hukmish Sholah Fil Auqotil Manhiyyah”
Judul Bebas:
“Hukum Sholat Di Waktu Terlarang”
Dengan Pengantar:
Fadhilatusy Syaikh Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy
-semoga Alloh menjaga beliau-
Ditulis dan diterjemahkan Oleh:
Al Faqir Ilalloh Abu Fairuz Abdurohman bin Soekojo
Al Jawiy Al Indonesiy
-semoga Alloh memaafkannya-
([1]) Dari jalur Sufyan Ats
Tsauriy dari Abu Robah atau Abu Royah. Abu Royah adalah Ziyad bin Royah,
dan dikatakan juga: Ziyad bin Robah. Abu Robah dikatakan juga Abu Qois
Al Bashriy, ditsiqohkan oleh Al ‘Ijliy, disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats
Tsiqot, dan dijadikan riwayatkan sebagai hujjah oleh Muslim dalam
“Shohih” beliau. Tsiqoh. Rujuk “Tahdzibut Tahdzib” (1/hal. 646/Ar
Risalah) dll.
([2]) “Sunan Abi Dawud” (1277)/ Maktabatul Ma’arif, dengan sanad shohih.
([3]) HR. Al Bukhoriy (881) dan Muslim (850) dari Abu Huroiroh رضي الله عنه.
([4]) HR. Al Bukhoriy (112/Darus Salam) dan Muslim (1335) dari Abu Huroiroh رضي الله عنه.
([5]) Ini adalah hadits Ali رضي الله عنه, dan akan datang pembahasannya insya Alloh.
([6]) HR. Muslim (855).
([7]) Al Imam Asy Syaukaniy
رحمه الله berkata: “Penyebutan sebagian anggota-anggota lafazh umum yang
mencocokinya dalam hukum itu tidaklah mengharuskan terjadinya
pengkhususan, menurut mayoritas ulama.” (“Irsyadul Fuhul”/1/hal. 288).
([8]) Ini adalah hadits Jubair bin Muth’im رضي الله عنه , dan akan datang insya Alloh penyebutannya.
([9]) No. (136).
([10]) HR. Abu Dawud (1083)
dan beliau berkata: “Dia itu mursal, Mujahid lebih tua daripada Abul
Kholil, dan Abul Kholil tidak mendengar dari Abu Qotadah. (“Sunan Abi
Dawud”/1/hal. 352).
([11]) HR. Ahmad (19063).
Sanadnya terputus karena Ash Shunabihiy dia itu adalah Abdurrohman bin
‘Usailah bin ‘Asl Al Murodiy, Abu Abdillah, pergi untuk menjumpai Nabi
صلى الله عليه وسلم ternyata dia mendapati beliau telah meninggal lima
hari atau enam hari sebelumnya. Lalu dia tinggal di Syam. Dia
meriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم secara mursal.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Hukum Sholat Di Waktu Terlarang (Bagian pertama)
Ditulis oleh Admin
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://risalahkajian.blogspot.com/2013/03/hukum-sholat-di-waktu-terlarang-bagian.html?m=0. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Admin
Rating Blog 5 dari 5